Sudut senyumnya selalu simpul, entah itu datar atau keatas. Ada yang tertahan, jarak. Bisa tak bisa ujungnya belum tentu. Ceritanya tak seharu lantunan juicy luicy yang bernyanyi dipelantang telingaku. Katanya menyukai, tapi belum bisa dijelaskan. Bukan asing, bukan kenal. Entah kenapa bisa berkaca - kaca, apa takut ? atau ada yang belum sembuh? Sekali lagi aku kalut, bukan dengan luka, hanya saja dengan orang baru.
Dimana letaknya ku simpan keberanian bertualang? Apa semua juga terkait? Bahkan lagu yang kunikmati dengan cerita indah masih ku dengar sendiri dengan lamunan. Titik balik ku menyesakkan, aku yang luka, dan tetap pedih. Menikmati prosesnya, hati - hati, dan menghilangkan ekspektasi.
Entah dari mana laki - laki pelari itu datang begitu saja, menyapa dengan ringan, bertutur dengan lembut bahkan menikmati obrolan dengan sopan seolah profesional. Serasa ini laras baru untuk memulai senyum yang lain, pikirku. Suaranya terdengar nyaman, pujiannya membuat hari - hari ingin dinanti kembali, sayang, jarak bukan temanku kali ini. Penikmat kopi itu memang begitu.
Semuanya terasa sempurna, kukira akan baik memulai dengan yang baik seperti harapanku, nyatanya pikiranku sangat tidak baik.
"Bagaimana aku bisa tau siapa dia?"
"Apa yang dia lihat sehingga kata-kata sayang itu muncul?"
"Apa yang membuat dia suka hanya dengan gambaran dunia maya?"
"Siapa sebenarnya dia, dan apa yang dia sembunyikan?"
"Jangan - jangan aku hanya salah satu pengisi waktu luangnya?"
"Kenapa aku begitu yakin berhenti mencari karena dia?"
"Kenapa banyak kemungkinan buruk yang terpikir, bahkan tak bisa kupastikan?"
"Siapa dia?"
Perjalananku lagi - lagi berhenti untuk merasakan sesak tanpa alasan. Pikiran buruk yang selalu menjadi teman dikala aku yakin hari-hari ini sudah baik - baik saja. Alam bawah sadarku tak begitu sayang, semua ketakutanku menjadi jelas karena sesuatu hal yang tak bisa kupastikan. Aku tidak nyata untuk dia, begitu sebaliknya.
Perih masa lalu semakin terasa ketika mendengar ucapan - ucapan manis, sesaknya nyata.

Komentar