![]() |
Lambat laun hati terbiasa hampa, kembali
Tak mungkin hirau selalu hampiri
Ada makna , entah enggan memaknai
Kita menunda sekian windu menyadari
Lara mana yang disengaja mengendap?
Luka apalagi yang dibuat menetap?
Pertanyaan seperti apa yang sulit terjawab?
Pinta keberapa yang belum terijab?
Sumringahku ini muncul tak tentu
Bersuara sebentar sekejap tak berseru
Tetapi aku tak memilih hilang begitu
Warna ku semakin banyak, kini sedikit biru

Komentar