Tuan, Aku Hanya Wanita

Apakah bahagia butuh alasan? Seperti sedih yang datang karena sebuah alasan?

Sedih yang kau rasa, sakit yang kau alami, hanya diperumit oleh pikiran burukmu. Kali ini kau mengulang kecewa diantara waktu yang tak menyembuhkan. Bilamana wanita ini menjadi tanah pijakan, mungkin hanya sebatas tanah rawa, tak sekokoh yang kau inginkan. Bilamana wanita ini kau jadikan pilar, mungkin hanya sebatas kayu rapuh. Bukan seperti itu yang tertulis, hanya saja kau timpal dengan syair rumit yang ingin kau jadikan nyata.

Lihatlah tuan, dunia nya telah hancur sebelum kau masuk, namun kau ingin lebih hancur lagi dengan semua yang kau tau. Tak ada balasan, hanya doa yang ditujukan pada Langit, pemilik utuh hati manusia, wbita kitu sudah lelah dengan hidupnya dan sangat sakit untuk bangkit. Jika nanti tuan melihat beberapa baris kalimat ini, dia telah mati-matian untuk tidak terlihat mati. Bunuh karakternya, bunuh mentalnya, dia hanya tetap berusaha tertawa pada dunia. Peluk diri yang pelik.


Komentar