2 Tahun setelah 2018

@ulanwln, Aug 20
Ketika hanya aku yang melihat dari sudut pandang ini - 2 tahun setelah 2018 

            Gawai hitam yang sedari tadi digenggamanku bergetar seperti biasanya. Kulirik dan rasa tak percaya, tertulis notifikasi dari kamu. Darah dan detak jantungku seolah melaju cepat sedetik melambat, perasaan seperti apa ini? Tanganku tidak langsung ingin menyeret ke kanan pemberitahuan itu, karena terlalu banyak prasangka yang muncul. Ada apa denganmu? Apa kamu butuh sesuatu? Atau kamu hanya ingin menyapa? atau kamu ...

            "Aku sedang dekat kantormu, mampir dulu boleh?"

            Mungkin siapa saja menganggap hanya pesan biasa, tapi ini sangat berbeda untuk aku subjeknya sipengirim. Untuk membalasnya aku butuh kata-kata yang terkesan biasa, tapi pikiran dan perasaanku belum terbiasa dengan tiba - tiba seperti ini. Kenapa baru sekarang?

            "Boleh, sekalian bawa makanan ya"

            Layar ponsel hitam digenggamanku tak lepas dari pandangan tajam yang mulai merasa khawatir dengan respon selanjutnya. Apakah balasanku terlihat biasa atau terlalu menganggap tidak terjadi apa - apa selama ini? Apa hanya aku yang masih memikirkan hubungan kita selesai dengan tidak baik? ya mana mungkin baik - baik saja akhirnya usai. Seingatku kamu hilang dan benar - benar tidak ingin ku ketahui, atau malah sebaliknya? helaan napas ku terasa berat menyusun kembali memory yang selama ini aku sembunyikan. Mana mungkin !

            "Aku di gateaway, atau aku langsung ke lobi?"

            "Tunggu disana"

            Ku oleskan sedikit lipcream berwarna soft pink yang biasa kugunakan, merapikan jilbab dan berkaca, kupastikan aku baik - baik saja terlihat olehnya. Langkah ku sangat ragu, seolah ini pertemuan pertama dengan orang baru, tidak, ini seolah aku bertemu dengan investor. Kulihat dipagar depan kantor mobil merah yang sangat aku kenal, ya itu kamu. Semakin dekat dan tanganku membuka pintu dengan santai, dan berkata dengan ramah, hai !

            "hai juga, masuk"

            Aku hanya mengikuti instruksimu, dan kamu tersenyum seolah bahagia melihatku setelah sekian lama. Aku kira hanya datang menyapa, tapi sepertinya ini menjadi obrolan makan siang. 

            "kamu tambah cantik, kok bisa"

            Kalimat pembukamu memecahkan suasana canggung yang aku tau bukan hanya aku yang merasakan. Kamu sangat mengenal aku yang selalu riang dan suka dengan gurauan kecil seperti itu. Setidaknya ini membuatku yakin, cerita kita memang telah selesai. sepertinya

            "Kamu pesan ini kan, minumnya ini kan"

            Seolah kamu menyamakan hari ini dengan 3 tahun yang lalu, aku bingung dengan sikapmu yang seperti ini. Harusnya kamu menanyakan apa kabar, sibuk apa, bagaimana kehidupanku sekarang, tapi kamu bertingkah sangat sama seperti kita dahulu sebelum renggang. Sekarang aku kembali bertanya - tanya, Apa maumu?

            "Aku cuti, dan baru sampai tadi malam dan mau jalan sama kamu"

            Seolah ringan dan berjalan sesuai keinginanmu, dan aku melancarkan semuanya. Perasaanku mulai bimbang dan ingin sekali melontarkan perntanyaan :"Apa kamu berharap?" "Apa aku benar - benar menjadi tujuanmu?" "Apa aku pilihan terakhir?" . Tidak semudah mewawancarai narasumberku setiap harinya. Lidahku kelu, dan hatiku sesak untuk mengajukan sesuai keinginan hatiku.

            "Kamu gamau tau ceritaku? aku ingat semuanya, tapi aku ragu, mungkin kamu tidak berniat membalas pesan - pesanku, atau kamu hanya basa - basi membalasnya, aku punya waktu sekarang. Kamu mau menyelesaikan kesalahpahaman 2 tahun lalu"

              Entah apa dengan kalimat yang kamu lontarkan, membuat mata kecilku melotot tajam dan sedikit terlihat lugu mendengarkan itu. Apa dia bisa mendengar pikiranku? atau dia membaca ekspresi bingung di paras ini? Tapi memang ini yang aku tunggu. Hal yang susah aku utarakan, dan juga memikirkan jawabannya. Seperti soal ujian yang aku tidak suka untuk menghadapinya. 

                "Hah?"

                 Respon singkatku yang sangat alamiah. Sambil mengambil gelas minuman dan menggigit sedotan plastik didalamnya. Tuhan, aku harus jawab apa. Akhirnya kamu ceritakan semuanya. ya, 40 menit kita berdebat dengan masalalu yang belum benar - benar selesai . Aku hanya bisa memaafkanmu untuk saat ini. Kamu tau, aku mencari pembenaran dengan teman - temanku. Karena prasangka ku akan sering muncul jika kita bersama lagi, bukan hanya masalah yang lalu, pasti akan muncul yang lain. Kamu setuju bukan? Tapi kamu terlalu gigih untuk meyakinkan ku. Bagaimanapun aku bersyukur, kita kembali tau cara berkomunikasi, Terimakasih

                                                                                                                


Untuk masalalu yang terselesaikan saat ini, aku lega 

Komentar

Gibran mengatakan…
Semua orang punya keputusan untuk mengulang cerita, kalau kamu sulit menerima bisa aja kamu masih menutup hati kak. Welcomeback brw
Sahabat Hati mengatakan…
Setelah sekian lama saya menunggu sajak-sajak pilu perwakilan hati insan. Merasakan sedihnya cerita bimbang ini.