Takdirku, Bukan Pada ...

Pada akhirnya manusia bisa jatuh pada kejadian yang sama,  dan menolak jika Ia sama saja.
Pada awalnya mereka tidak mengenal akan penyesalan,  dan berpikir jika ini yang terbaik.

Bisa jadi aku memilih menjadi seperti itu,  dan menjawab pertanyaan "apa yang kau mau? "
Dan aku tidak punya cerita untuk menyangkal, hanya saja sanggup berkata "ini takdir"

Takdir yang menjadi titik balik, bukan pencapaian, umpan bahwa aku hanya bisa berpikir dan pada akhirnya bukan harapan.

Setelah lama, aku kembali dengan pertanyaan "apa yang aku tidak mau?"

Fakta bahwa semua orang melupakan peluang negasi untuk "takdir".
Sekedar penyangkalan, aku juga tidak bisa bernegoisasi dengan "takdir".

Kapan takdir bisa berkata dan memberi saran? Ternyata semua berpura-pura dengan kalimat "ini yang terbaik"
Ketika suara dari Logika bisa menutupi teriakan hati "memang ini takdirnya"

Setidaknya, aku sudah bernegoisasi dengan air mata,  kelak "takdirku bukan pada kau"
Dan ini adalah sebuah pencapaian, bukan pada harapan.

@ulanwln
17-7-17 , 23.48 WIB

Komentar