Tenang dan tanpa masalah, Luna duduk di kelas Sastra Korea. Memang hobinya untuk berkelana di universitasnya, yang bisa dibilang terbesar di Asia Tenggara. Suasana asri, dengan tema classic membuat Luna sangat antusias memilih kampus itu. Padahal di kota asalnya ada beberapa Universitas ternama di Indonesia.
"Aku belum pernah melihat kau sebelumnya" ujar gadis lucu yang duduk disebelahnya.
"Eh, hai. Aku luna mahasiswa komunikasi Fisip. Bukan apa-apa sih, aku hanya ingin merasakan kelas sastra Korea, nama kamu siapa?" Jelas luna kepada gadis itu.
"Aku Mini, wah berani sekali, gak ada kelas hari ini?" Umpan baliknya kepada luna
"Tadi pagi ada, terus nanti jam 4 sore. Salam kenal Mini"
"Aku belum pernah melihat kau sebelumnya" ujar gadis lucu yang duduk disebelahnya.
"Eh, hai. Aku luna mahasiswa komunikasi Fisip. Bukan apa-apa sih, aku hanya ingin merasakan kelas sastra Korea, nama kamu siapa?" Jelas luna kepada gadis itu.
"Aku Mini, wah berani sekali, gak ada kelas hari ini?" Umpan baliknya kepada luna
"Tadi pagi ada, terus nanti jam 4 sore. Salam kenal Mini"
Gak usah heran, Luna memang seperti itu, ingin merasakan semua hal yang belum pernah dirasakannya. Saat ini dia berprofesi sebagai penyiar part time di salah satu Radio ternama di kota ini. Tujuannya hanya ingin merasakan dunia broadcasting. Sebelumnya dia juga pernah ikut redaksi majalah dan organisasi masyarakat di kota nya. Entah bagaimana Luna melakukan itu semua, yang terpenting hanya pengalaman yang akan di buatnya untuk menjadi pilihan berikutnya.
Siang ketika kelas 2 sks sastra korea berakhir, Mini mengajak Luna untuk berkunpul dengan teman temannya. Mini beranggap Luna adalah orang yang easy going. Of course Luna setuju. Masih tersisa 3 jam sebelum kelas jurusannya dimulai. Disana Mini mengenalkan beberapa temannya kepada Luna. Sangat antusias mereka mendengarkan cerita-cerita unik dari mulut riang penyiar itu.
"Kamu sangat belum berubah" tiba tiba satu kalimat yang mengalihkan suasana di meja itu.
Laki-laki dengan kemeja abu-abu yang duduk di meja sebelah, dengan tampilan selayaknya Mahasiswa fakultas ini, menghisap sebatang rokok yang sepertinya dengan kadar nikotin rendah dan yang pasti berwajah tampan.
"Maaf, maksud kamu apa?" Sangat hening ketika Luna bertanya sosok lelaki yang sekarang berubah julukan aneh oleh Luna .
Laki laki itu hanya melihat tenang ke arah mata Luna, lalu tersenyum dan pergi meninggalkan kafe. Luna dan beberapa orang yang sempat acuh disini hanya heran.
"Mini, itu tadi siapa?" Tanya luna untuk mencari tau sosok aneh tadi.
"Setau aku namanya Ady, mahasiswa Sastra Inggris dan lumayan eksis di universitas, soalnya dia aktif di Basket. Kamu hebat ya Luna, Ady kenal sama kamu" jelas mini dengan wajah nanar bercerita pada Luna.
"Lebih hebat lagi aku gak kenal, bahkan gak pernah tau dengan dia" wajah Luna berubah menjadi kusut dan sedikit penasaran dengan kejadian kecil hari ini. Secara Luna tidak pernah mencoba kelas Sastra Inggris, baginya Kursus lebih efektif.
"Ehmm, udah jam 3 aku duluan ya, mau bikin tugas dulu, bye" Luna pamit kepada teman teman barunya menuju jurusannya.
"Kamu sangat belum berubah" tiba tiba satu kalimat yang mengalihkan suasana di meja itu.
Laki-laki dengan kemeja abu-abu yang duduk di meja sebelah, dengan tampilan selayaknya Mahasiswa fakultas ini, menghisap sebatang rokok yang sepertinya dengan kadar nikotin rendah dan yang pasti berwajah tampan.
"Maaf, maksud kamu apa?" Sangat hening ketika Luna bertanya sosok lelaki yang sekarang berubah julukan aneh oleh Luna .
Laki laki itu hanya melihat tenang ke arah mata Luna, lalu tersenyum dan pergi meninggalkan kafe. Luna dan beberapa orang yang sempat acuh disini hanya heran.
"Mini, itu tadi siapa?" Tanya luna untuk mencari tau sosok aneh tadi.
"Setau aku namanya Ady, mahasiswa Sastra Inggris dan lumayan eksis di universitas, soalnya dia aktif di Basket. Kamu hebat ya Luna, Ady kenal sama kamu" jelas mini dengan wajah nanar bercerita pada Luna.
"Lebih hebat lagi aku gak kenal, bahkan gak pernah tau dengan dia" wajah Luna berubah menjadi kusut dan sedikit penasaran dengan kejadian kecil hari ini. Secara Luna tidak pernah mencoba kelas Sastra Inggris, baginya Kursus lebih efektif.
"Ehmm, udah jam 3 aku duluan ya, mau bikin tugas dulu, bye" Luna pamit kepada teman teman barunya menuju jurusannya.
Ketika berjalan di koridor fakultas ini, Luna melihat Ady, laki laki tenar yang diceritakan oleh Mini tadi. Pria itu duduk di kursi dekat tiang yang menghadap ke panorama pegunungan. Memegang gitar dan sesekali memetiknya. Luna berjalan menuju Ady, dari belakang dia mendekat. Tapi tiba-tiba luna berhenti seakan dia kaget tanpa berani mengeluarkan suara melihat pick gitar yang berinisial BE. Berusaha diam dan memutar pikirannya.
"Nanti aku bakalan jadi anak band loh, Bening jadi vokalisnya" ucapan mimpi dari anak tk yang sangat polos
"Fajar kan gak bisa main gitar, jari nya pendek hahahhahah" ejek anak perempuan yang sangat lucu dan riang.
Mereka bersahabat memang dari kecil. Tapi Bening harus pindah ke luar negri sementara karena Ayahnya harus S2 di sana. Sebenarnya hanya 3 tahun, tapi setelah kembali ke Indonesia, Bening tidak kembali ke Jakarta, rumah disana telah dijual oleh ayahnya dan memutuskan menetap di Medan. Sejak saat itu Fajar dan Bening tak pernah bertemu.
Sebelum bening ikut ayahnya keluar negeri, fajar membuat salam perpisahan untuk sahabat cantiknya itu.
"Kata mama aku kamu akan balik ke jakarta, nanti kalau udah kesini kita satu sekolahan ya, SD SMP SMA sampai kuliah kerja kita harus sama sama terus ya Bening, jangan cari pengganti aku disana. Soalnya aku gak kalah ganteng sama bule bule disana hahahahhaa" ucap fajar kepada Bening.
"Iya, kamu harus latihan gitar terus ya. Biar jago gitu, oh ya nanti kamu harus lebih tinggi dari aku. Banyak banya main basket kayak abang aku Jar. Nanti kalau aku pulang kita ngomong pake bahasa inggris, kata ayah aku bakalan hebat bahasa inggris disana. Eh Jar, kemaren aku ambil ini loh dari kamar abang Farid , ini buat main gitar. Ini buat kamu, soalnya punya bang Farid banyak." Sambil memberikan pick gitar berwarna putih untuk Fajar yang sudah di tulisnya dengan inisial BE. Itu adalah inisial nama Bening Eryaluna.
Tapi sudah hampir 4 tahun Fajar menunggu kedatangan Bening dikelasnya. Perasaan kecewa sangat tersimpan di dalam hati Fajar, masih banyak perencanaan mereka yang mungkin terlupakan oleh bening. Bening memang takkan datang.
Tapi sudah hampir 4 tahun Fajar menunggu kedatangan Bening dikelasnya. Perasaan kecewa sangat tersimpan di dalam hati Fajar, masih banyak perencanaan mereka yang mungkin terlupakan oleh bening. Bening memang takkan datang.
"Fajar" Luna bergumam pelan pada lelaki itu. Ady menoleh dan melihat Luna sudah berlinang air mata. Ady tersenyum dan menarik tangan Luna duduk disebelahnya.
"Aku minta maaf" ucap laki laki itu. "Aku baru berani menegurmu tadi. "
"Aku minta maaf" ucap laki laki itu. "Aku baru berani menegurmu tadi. "
Luna menggelengkan kepalanya "seharusnya aku yang minta maaf, aku tidak kembali memenuhi janji itu"
"Hey, lihat sekarang kita menjalankan nya, kita di universitas yang sama. Saat aku tau kamu memilih kuliah disini, aku berusaha untuk bisa lulus disini. Aku ingin menunjukkan padamu aku akan hebat berbicara bahasa inggris" perkataan Ady membuat Luna tersenyum.
"Dan kau sekarang lebih tinggi, bisa main gitar dan terkenal" dengan merasa bersalah Luna menundukkan kepalanya
"Jangan seperti itu Bening, aku senang melihat kau yang riang, suka berteman dan ceria. Kau semakin cantik" ucap Ady sambil mengusap pipi Luna yang basah dengan air mata.
"Dan kau sekarang lebih tinggi, bisa main gitar dan terkenal" dengan merasa bersalah Luna menundukkan kepalanya
"Jangan seperti itu Bening, aku senang melihat kau yang riang, suka berteman dan ceria. Kau semakin cantik" ucap Ady sambil mengusap pipi Luna yang basah dengan air mata.
Luna hanya terdiam. Di hatinya timbul perasaan aneh yang sulit diceritakan. Bening adalah Luna, orang terspesial di hidupnya Fajar Hady.
"Sudahlah, kalau kau masih menangis aku akan teriak disini memberi tau orang sekampus betapa cengengnya seorang Luna, wanita multi talent. Oh iya ini pick gitar bang Farid, maaf sedikit gores hahahaha"
Mendengar ucapan Ady, Luna masih terpaku untuk tidak bisa berkata apa apa.
"Oh iya kayaknya aku ingin melindungi mu mulai hari ini hingga nanti bening" kali ini Ady terlihat serius.
"Maksudnya kamu mau jadi suami aku? Hahahahha" suara Luna terdengar lebib keras.
"Itu nanti, pasti. Tapi ada prosesnya dulu dong Bening. Jangan langsung mikir kesitu dulu. Kan masih mahasiswa" celutuk Ady melihat bening yang selalu membuat Ady penuh kesabaran
"Hahahha, hmmm of course i would. And i dont leave you again Fajar" jawaban Luna dengan pasti tanpa meniru tokoh sinetron ataupun novel yang sangat rumit mengatakan iya. Hanya kata iya.
"Sudahlah, kalau kau masih menangis aku akan teriak disini memberi tau orang sekampus betapa cengengnya seorang Luna, wanita multi talent. Oh iya ini pick gitar bang Farid, maaf sedikit gores hahahaha"
Mendengar ucapan Ady, Luna masih terpaku untuk tidak bisa berkata apa apa.
"Oh iya kayaknya aku ingin melindungi mu mulai hari ini hingga nanti bening" kali ini Ady terlihat serius.
"Maksudnya kamu mau jadi suami aku? Hahahahha" suara Luna terdengar lebib keras.
"Itu nanti, pasti. Tapi ada prosesnya dulu dong Bening. Jangan langsung mikir kesitu dulu. Kan masih mahasiswa" celutuk Ady melihat bening yang selalu membuat Ady penuh kesabaran
"Hahahha, hmmm of course i would. And i dont leave you again Fajar" jawaban Luna dengan pasti tanpa meniru tokoh sinetron ataupun novel yang sangat rumit mengatakan iya. Hanya kata iya.
Jadi kalian yakin kan menunggu itu bahagia dan penuh harapan. Yang ditunggu pasti akan datang, walaupun lama sekali.
Komentar