Syair hujan Mereka

Rasa apa ketika hujan menyentuh rasukan dingin. Sayatan tak terduga berlalu untuk menghampiri keresahan akan rindu tak sempat di rapatkan. Buyaran angin lagi menghantam jawatan kanal terpisah jangkal oleh mereka. Pahatan air tak terbujur oleh perhitungan lemparan masa lalu yang ingin dia pisahkan. Terkadang kau berlalu lalang seperti angin tanpa kekhawatiran menoreh banyak orang. Ini tinta hitam untuk kau tulis dan catat sendiri.
Mereka itu, menyatu dalam hujan dingin di telat malam itu. Mereka mengingat saya, bukan kah kau mengatakan itu. Mereka bukan kalian yang menyelipkan tanda hubung itu, semua ber frasa majemuk. Ketika mereka menyepakati beberapa aksara yang akan di abadikan oleh air mata langit, aku terlagi melihat utuh kepada mereka. Segemercik untaian tanda seru tak cukup luas menerjemahkan ke peka an jiwa. Mereka masih melihatku, bukan kah kalian sedang menyimak gurauan di ujung sana?
Lelaki paruh baya ini datang menyimak kelarutan pikiran ku. Butuh waktu, biarkan saja mereka. Bahkan pikiran belum tentu mengalahkan kekuatan hati kalian pilih saja. Lelaki ini mengisyaratkan untuk bersenang hati seketika susahan ku terbuang begitu saja. Jangan pedulikan mereka yang terbirit lari meninggalkan ku.
Mereka masih dibohongi oleh cerita hujan khayalan itu. Aku diantara terlepas semu oleh mimpi musim semi. Muaian angan angan konyol terselip rapuh untuk dipertontonkan. Lelaki itu tidak lama. Hanya sementara aku meresapi mereka yang terajut biru di masa lalu. Lalu kalian apa kan? Aku menyimpan jawaban samar.
Dia tahu, aku mengerti dan mereka masih belum paham.
Lelaki itu pergi, nanti aku temui dia di lama waktu yang masih terhitung panjang. Kuda liar lebih berarti di bandingkan harimau. Sebab dunia ini bukan rimba, hanya saja kalian jangan terlarut. Kini aku kian memikirkan waktu indah di jelang berakhir. Mereka yang terlupa sirna sedikit lagi untuk memilih kedamaian dan kesombongan.
Relevan, mereka, dia, aku dan setidaknya kau meyematkan titik2 berbeda. Bukan saat ini,

Komentar