Namanya Riza

Saat itu aku berdampingan dengan wanita bertubuh sedikit minimalis dengan paras anak SMA. Aku memutuskan untuk duduk mendekatinya dan memulai pembicaraan dengan nada keakraban.
"Hei, jurusan biologi kan?" Sapa awal ku dengan was was, takut jika dia hanya tersenyum tanpa akan membalas dialogku.
Sedikit hening memang ketika dia terheran menatapku, mahasiswa jurusan matematika yang sama sekali tidak ia kenal. Menurutnya mungkin aku terlalu antusias mengenalnya.
"Iya, kamu matematika kan? Merah" seketika dia membalas pertanyaan ku dengan sangat antusias. Saat itu memang kondisi bus kampus tidak begitu ramai, karena waktu menunjukkan pukul 4 sore. Saat itu mahasiswa banyak yang belum membutuhkan kendaraan ini.
Sontak dia melanjutkan pembicaraan mengenai jurusanya bercerita panjang lebar tentang kehidupan bermasyarakat di jurusan hijau tersebut. Aku begitu kagum ketika dia mengatakan tentang pembinaan yang akan berakhir. Begitu solidkah mereka untuk mendapatkan waktu yang kami inginkan itu?
Seiring iya terus menceritakan sikap keakraban yang ia tunjukkan pada ku. Wajar saja mereka bisa, sedangkan pada orang lain saja dia peduli, apalagi dengan sesama.
Satu pertanyaan yang timbul paa benakku, bagaimana caranya aku dan teman teman sejurusan merasakan kewajaran yang dialami oleh jurusan lain.
Aku tersenyum lebar ketika iya mengatakan, aku dan teman teman sangat akrab setiap hari. Benarkah? Aku rasa itu hanya pandangan luar.
Sejenak aku terdiam dan terbayang bagaimana jika aku tetap melanjutkan hati yang sedang bimbang terhada dua pilihan, padahal hanya dua.
Lagi dan lagi aku hanya takut dengan ketidaksiapan hatiku untuk melihat satu sosok disana. Ini salah satu sikap dewasa kah? Dengan pertimbangan pertimbangan pertimbangan yang telah aku susun. Dan satu lagi ketika pria pria itu meyakinkan aku bukanlah sosok yang lemah, melainkan penguat dan berkorban. Tapi aku yakin itu tidak yang sebenarnya.
Aku melamun meniadakan wanita yang disebelahku. Sejenak masih hening dengan lamunanku.
"Memangnya kalian sudah sejauh mana?'' Pertanyaan itu seolah menerjemahkan aku harus bertahan. Dengan santai aku menjawab, semuanya berjalan lancar dengan kesolidan pertemanan.
Intinya memang itu, menuju satu pintu dengan jalan yang tidak hanya satu jalur. Sekali melangkah jangan sampai berhenti. Bagaimanapun dan siapapun yang menghalangi, tetap harus menujunnya.
"Oh ya nama ku Riza, sampai ketemu di fakultas esok" dengan nada bahagianya ia menepuk bahuku. Spontan aku meneriaki namaku juga padanya. Ternyata dia salah satu mahasiswa yang tinggal di asrama universitas.
Terimakasih tuhan masih ada satu cerita untuk penguat hatiku hari ini.
Namanya Riza dari jurusan biologi, wanita bertubuh minimalis dengan senyum tipis.

Komentar