“Sudahlah
aku tau semua cerita kau dengan while prince itu” sahut gadis berparas cantik
itu membuyarkan pandanganku terhadap ‘dia’.
Ada yang tau? Bukannya sudah
tertutup rapat? Bukannya kita tidak seperti yang mengenal satu sama lain? Tapi gadis
yang disebelahku ini seolah tau apa yang aku rasakan ketika melihat sosok ‘dia’.
Apa iya wajahku masih berharap untuk dapat menjadi bagian dari ‘dia’ lagi? Ini benar
yang ku rasakan.
Dia sosok kekasih sementara yang
sempat kutulis panjang dan mengendap di hati ini. Dia yang setiap hari ku
temui, bukan apa-apa karena kami satu jurusan di kampus. Bukan disengaja,
melainkan pilihan. Dia yang selalu kubawa diam tentang cerita, aku tau dia, dia
tau aku, dan dia kenal aku, serta aku kenal dia. Seolah dia harus memulainya
lagi sebagai batasan teman sejurusan dan seangkatan.
Seperti yang pernah ku lontarkan,
aku tetap sama, percayalah. Benar, itu terbukti, jika benar dia bisa mengajak
ku bercengkrama tak ada yang berubah. Mungkin aku wanita yang sangat susah
menerima kenyataan kau bukan untukku. Iya, dia bukan milikku utuh, tapi aku
bersyukur sempat merasakan indahnya hati dia, sementara.
“aku
ceritakan semuanya, karena ku pikir kau hebat. Mengetahui masa lalu ku, karena
kau yakin kita bersaudara, disini.” Akhirnya disepanjang senja aku
menyelesaikan sepenggal pengetahuannya tentang aku dan dia. Wanita itu mulai
penuh dengan tanda tanya dan takjub mendengar sepenggal singkat cerita aku dan
dia. Sesederhana itu kah aku? Iya.
Hingga aku sampai di rumah hunian
yang telah ku tempati lebih kurang 2 tahun terakhir, ini menjadi perasaan yang
memuncak tentang kerinduan. Hai, apa kabar? Apakah dia keberatan jika aku
menjadi seseorang yang tiba-tiba mulai berbeda, berbeda? Ya bukan hanya
menerima apa yang terjadi. Lantas kalian mengerti maksudku, bukan? Jika tidak,
coba melanjutkan alur ini.
Ingatkah dulu? Mungkin kau masih
mengingatnya, aku yakin itu. Apa perlu aku memulai kronologinya? Ketika hari-hari
pertama kau mengirimkan pesan teks “bangun, jangan lupa shalat” begitu setiap
hari. Lalu ketika menerima rapor, spontan kau orang pertama yang ku beri tahu
dengan bangganya. Entah kenapa sejak saat itu aku merasa kau peduli dengan hal
kecil. Aku menyempatkan diri belajar bersama dengan mu dirumah sahabat kita. Kau
yang jago fisika, dan aku sedikit mengerti tentang matematika. Kau mengajariku
tentang sopan santun sebagai gadis remaja. Kau membuatku seolah manis diantara
teman-temanmu.
Aku masih ingat malam minggu pertama
“hitam-kuning”, es krim, ejekan sayang. Hujan? Kau mengatakan itu tak baik untukku
arena aku selalu menginginkan hujan selalu ada, kau mengerti tentang kondisi
tubuhku yang lemah. Pantai? Aku hanya tertawa bahagia, bahkan menangis, kau
yang pertama membuatku seperti itu. Aku masih ingat rasanya dekapan itu, walau
kita tak sadar, atau kau tak sadar, tapi aku menikmatinya. Kedengarannya memang
tak pantas, tapi ombak itu malah menyatukan raga kita. Apa aku berlebihan
menanggapi persaan itu? Tapi semua orang yang menyaksikan itu mengomentari hal
yang sama. Aku terlarut mengenang itu, kau begitu hebat membuat kenangan yang
indah walau hanya sementara.
Club bola? Aku tak menyangka kita
menyukai the red, kau katakan itu sejak dulu, sama aku juga. Kau selalu ada
sebagai apapun yang aku mau, itu bahkan kau yang minta. Kau tau? Aku telah
mencoba memainkan kidung-kidung yang kau janjikan dan kau senangi, lebih indah,
itu aku, bahkan yang pernah kau nyanyikan pelan di atas motor “yang terlewatkan”.
Aku bisa memainkannya dengan gitar. Tangan kecilku yang kau puji dengan kata
imut ini merasa senang dan bersemangat ketika dulu melantunkannya dan memetik
gitar setiap saat. Liriknya menakjubkan. Aku bahkan masih menunggu kau untuk
menyanyikan kidung “itu aku” khusus untukku, maaf aku masih menunggu janji yang
mungkin ntah kapan kau tepati. Kau membuatku merasakan indahnya jatuh cinta
karena terbiasa, bukan karena pandangan pertama.
Aku benci jika harus menceritakan
nya lagi dalam hal yang mendekati berharap, sementara kau mungkin membenci diri
ini yang memang tak pantas untuk berada didekatmu. Kau berusaha menghilangkan
jejak itu. Iya aku mengerti, kau seorang yang tak bisa menyakiti wanita, kau
menjaga perasaan dia, yang hampir setahun menjadi kekasihmu itu. Maaf aku
terlalu berlebihan menyikapi perasaan yang tiba-tiba kacau dengan ingatan
bayangan masa lalu yang memaksaku memutar kembali perasaan yang telah rapi
menyendiri dan bersembunyi. Maaf aku yang tak bisa mencari seorang yang lain,
karena kau tau, aku bukan ahlinya memulai sesuatu, sama seperti kau yang
memulai dulu.
Tapi, aku senang masih bisa melihat
mu selalu, bahkan untuk selanjutnya. Bagaimana tidak, akulah yang akan
menyaksikan kau berubah menjadi seorang pelindung, bukan hanya untuk kekasihmu,
tapi untukku, untuk semua teman yanga ada di angkatan kita. Ini hal yang
kusenangi.
Terimakasih telah meminjamkam bahu
dan dadamu, sebentar. Terimakasih kau telah menjadi bantal trnyaman kala itu
aku membutuhkannya, belaian lembut yang lama. Jujur aku selalu merindukan saat
saat itu, aku sangat merindukan dirimu, hatimu dan waktumu. Aku bahkan tidak merasakan
dingin ketika hujan, karena tanganmu. Kau mengerti perasaanku bukan? Kau terlalu
berani membuat kenangan indah dan pergi lambat tanpa menghapus jejak. Aku menikamnya
dan mengabadikan perasaan itu. Potret-potret kenangan yang hanya sedikit masih
tersimpan dalam 1 folder, dengan nama khusus. Suatu saat aku akan menghapus
semua tentang ini, tentang kau, tentang kita. Harus, meski bukan sekarang, tapi
aku yakin kau akan mengerti betapa sangat berharganya seorang lelaki cerdas
sepertimu. Kenangan singkat dan sementara ini tak pernah kurasakan seperti
pupus. Ternyata aku belum bisa menghapus semuanya, saat ini aku hanya menulis
aksara yang masih terendap dengan cerita yang sama ketika aku menyalahkan hati
yang terlalu lambat mengunci perasaanmu. Terlalu pelan untuk menahanmu, bukan
takdir, memang. Atau suatu saat nanti? Aku terlalu larut dengan tulisan yang
mengabadikan ekspresi hati. Aku terlalu sibuk menyikapi keadaan.
Sebenarnya alur cerita kita tak
serumit yang kutulis ini hanya aku mensiasati sikapmu yang sudah dewasa. Aku akan
terus menatap, aku bahkan orang pertama yang menangis waktu itu kau kelelahan. Hanya
aku yang simpan semuanya. Kini aku berdamai dengan kontra logis dan perasaan. Siapa
yang selanjutnya akan memenangkan hatiku? Agar aku yakin kau harus bahagia
dengan pilihanmu, pilihanmu sekarang.
Ini
yang terakhir ku ucapkan, malam ini kusempatkan berkata aku menyayangi mu
seperti kemarin kita, aku mencintaimu hanya sebatas persaan waktu itu, kini aku
mengharapkanmu menjadi yang terindah. Terimakasih sesaat yang tak kunjung usai
kurasakan.
Terbukti, aku masih sama,
tentang tulisan ini.
~W.A.G
Komentar
Qisti Amelia :)