See you!


Bahkan aku tidak memaksamu untuk mempercayai hati yang galau dan kekanak-kanak an seperti masa lalu yang menjengkelkan dari dirimu .

Kata pengantar setelah aku memutuskan untuk berlari dari bayangan dirimu. Hanya pendirian yang teguh agar aku tidah beralih padamu. Disaat suasana kampus yang sangat berbeda dengan bangunan SMA, dulu hanya memerlukan waktu 5 menit untuk mencari seseorang, kini? Di bangunan luas dan bahkan sangat luas di negara ini, aku tidak menemukan sosokmu.

“apa kamu mulai mencariku? Setelah pendirianmu goyah?” aku berharap kamu bisa mengatakan itu kepada ku. Tapi tidak akan, berita terakhir tentangmu, aku pun tidak tau kapan.

“kamu menanyakanku melalui Muty, apa rindu mu sudah menumpuk?” bagaimana jika itu yang kamu ucapkan? Apa aku siap untuk menlean air ludah yang telah kubuang? Walau aku tau kamu tak akan tega mengatakan itu. Aku hanya mengulang kepercayaan yang entah kapan berlanjut.

Sekali lagi aku memutar kidung dari penyanyi asing, “fall for you” .. masih dengan kalimat yang menakjubkan. Bait demi bait untuk mengungkapkan perasaanmu dulu, kala itu aku hanya meremehkan hati seorang remaja yang mencari cinta mainan. Aku bahkan tidak meminta maaf atas pernyataan itu.

“aku masih ingat ketika kamu menolak ku untuk kembali, sekarang kamu malah mengingat ku kembali” dengan kondisi ini, apa mungkin kamu juga melontarkan kalimat yang akan membuatku kehabisan kata. Saat ini aku masih di penghujung bait ke tiga. Dibawah pohon yang bisa dibilang indah, pemandangan bukit dan taman yang terawat di kampus ini, mengingatkan ku saat kita dulu, melancong jauh hingga kesini sepulang sekolah. Sempat berkata, 2 tahun lagi kita akan disini, dalam satu fakultas, satu jurusan “Ilmu Komunikasi”. Memang kita mendalami bidang yang sama, tapi salah aku tak berada dijurusan itu, kamu pun juga.

Cuaca sangat terik, saat ini bahkan bisa dibilang bukan musim penghujan. Ketika kamu memaksa ku untuk menunggu hujan deras, katamu hujan itu tidak akan membuatku sakit, itu hanya rasa takutku. Apa aku harus menunggu hujan untuk membuktikan aku selalu kuat ketika hujan sederas apapun. Tapi akhir-akhir ini bukan denganmu. Selepas april 2012 dulu, itu yang terakhir.

“kalaupun nanti malam hujan, kamu akan berbohong kepada kekasihmu, bahwa kamu ingin menikmati hujan bersamanya, bukan kah aku yang mengajak mu untuk masuk dalam cerita hujan? Tapi kamu terlalu lengah untuk menyadarinya” apa mungkin ini yang akan kamu respon untuk membuatku bangun, bahwa aku selalu melupakan yang selayaknya terjadi. Jujur ini bukan pura-puranya hati, tapi waktulah yang memudarkan ingatan perasaan.

Aku selalu memicu ingatanku untuk bergerak lambat dibanding logika yang sombong di hati ini. Aku bahkan lupaalasan apa yang kau buat untuk menyakitkanku. Ingatanku terlalu berbahaya untuk kau ketahui.

“aku yakin beberapa saat ini kamu selalu melirik kronologiku” benar, bahkan aku berani berteriak untuk menyetujui perkataanmu itu jika benar kamu akan menanggapinya. Bagaimana tidak, hanya aku yang tidak berani mengakui aku sempat menjadi kekasihmu. Bahkan aku menghapus potret kenangan kita. Ketika satu gambar yang selalu kau puji dengan kata-kata “cantik”, iya, kamu selalu mengatakan aku anggun, dan cantik. Aku baru menyadari kamu tidak bercanda untuk membuatku senang.

“apa kamu haus untuk mencari yang terbaik dan selalu terbaik, dan saat ini kamu hanya selalu menjadi apa adanya yang selalu menerima apa adanya” aku tau itu hal utama yang akan kamu ucapkan jika aku menceritakan semuanya. Apa aku sehebat ini untuk menghindarkan ingatan?.

Mereka selalu benar untuk menyatakan kepedihan yang kurasakan, tapi tidak untuk bahagianya ketika mengingat setiap sore kita menghabiskan waktu sepulang sekolah. Alasan palsu yang kau beri untuk orangtuaku hingga kau berhasil untuk mencari celah selalu bersamaku. Hanya kamu yang bisa seperti itu.

10.11.11. tanggal ketika kamu menggenggam tanganku dan mengutarakan maksudmu utnuk menjadikan pacarmu. Aku bahkan selalu menolak, tapi setelah 2 minggu aku menjalaninya, aku mulai menerimamu sebagai kekasih, bahkan itu terhitung cepat, keahlianmu memang meluluhkan hati wanita. Hanya kamu, yang secepat itu merebut hati ku, selebihnya, butuh waktu berbulan-bulan agar aku bisa menerimanya.

“kenapa tidak kamu saja yang mencoba menghubungiku?” apa itu akan kamu ucapkan juga, ? aku rasa itu hal yang tepat, sebab aku lah yang memikirkan penuh tentang dirimu. Tapi bukan saat ini. Nanti ketika aku yakin bahwa aku memang merindukan senyum khas mu itu. Nanti ketika aku membutuhkan dadamu untuk ku bersandar, nanti ketika aku bisa menguhkan hati yang rapuh ini, nanti ketika aku bisa bersandiwara akan kerinduanku. Iya, nanti.

“aku tak akan menolak kehadiranmu yang benar inginkan semua itu” hanya itu kata-kata yang ingin aku dengar dari mu. Tak usah dengan semua pernyataan yang membuatku tertegun, hanya kalimat itu.

Kala kamu akan mengajakku berpacu teriak ditengah hujan, dipinggir pantai. Tempat yang setiap hari harus aku lewati, sebab bayanganmu selalu berlari dipinggiran laut. Salah satu batu yang dulu sempat kupermanentkan tulisannya, “W.R.10” masih ada. Hanya saja seragam sekolah ku tak lagi kugunakan. Kapan kamu akan mengunjunginya bersamaku?

Fingerboard, jurnalist, komunikasi, musik, Fall for you, hujan, dan segalanya yang selalu menjadi latar cerita. Apapun itu, suatu saat aku akan menjadi apa yang harusnya aku fikirkan. Sepertinya jebakan masalalumu masih berlaku untukku. See you !

~Sesaat aja kok, tenang jangan terlalu percaya :D

Komentar