Bahkan
aku tidak memaksamu untuk mempercayai hati yang galau dan kekanak-kanak an
seperti masa lalu yang menjengkelkan dari dirimu .
Kata
pengantar setelah aku memutuskan untuk berlari dari bayangan dirimu. Hanya
pendirian yang teguh agar aku tidah beralih padamu. Disaat suasana kampus yang
sangat berbeda dengan bangunan SMA, dulu hanya memerlukan waktu 5 menit untuk
mencari seseorang, kini? Di bangunan luas dan bahkan sangat luas di negara ini,
aku tidak menemukan sosokmu.
“apa
kamu mulai mencariku? Setelah pendirianmu goyah?” aku berharap kamu bisa
mengatakan itu kepada ku. Tapi tidak akan, berita terakhir tentangmu, aku pun
tidak tau kapan.
“kamu
menanyakanku melalui Muty, apa rindu mu sudah menumpuk?” bagaimana jika itu
yang kamu ucapkan? Apa aku siap untuk menlean air ludah yang telah kubuang? Walau
aku tau kamu tak akan tega mengatakan itu. Aku hanya mengulang kepercayaan yang
entah kapan berlanjut.
Sekali
lagi aku memutar kidung dari penyanyi asing, “fall for you” .. masih dengan
kalimat yang menakjubkan. Bait demi bait untuk mengungkapkan perasaanmu dulu,
kala itu aku hanya meremehkan hati seorang remaja yang mencari cinta mainan. Aku
bahkan tidak meminta maaf atas pernyataan itu.
“aku
masih ingat ketika kamu menolak ku untuk kembali, sekarang kamu malah mengingat
ku kembali” dengan kondisi ini, apa mungkin kamu juga melontarkan kalimat yang
akan membuatku kehabisan kata. Saat ini aku masih di penghujung bait ke tiga. Dibawah
pohon yang bisa dibilang indah, pemandangan bukit dan taman yang terawat di
kampus ini, mengingatkan ku saat kita dulu, melancong jauh hingga kesini
sepulang sekolah. Sempat berkata, 2 tahun lagi kita akan disini, dalam satu
fakultas, satu jurusan “Ilmu Komunikasi”. Memang kita mendalami bidang yang
sama, tapi salah aku tak berada dijurusan itu, kamu pun juga.
Cuaca
sangat terik, saat ini bahkan bisa dibilang bukan musim penghujan. Ketika kamu
memaksa ku untuk menunggu hujan deras, katamu hujan itu tidak akan membuatku
sakit, itu hanya rasa takutku. Apa aku harus menunggu hujan untuk membuktikan
aku selalu kuat ketika hujan sederas apapun. Tapi akhir-akhir ini bukan
denganmu. Selepas april 2012 dulu, itu yang terakhir.
“kalaupun
nanti malam hujan, kamu akan berbohong kepada kekasihmu, bahwa kamu ingin
menikmati hujan bersamanya, bukan kah aku yang mengajak mu untuk masuk dalam
cerita hujan? Tapi kamu terlalu lengah untuk menyadarinya” apa mungkin ini yang
akan kamu respon untuk membuatku bangun, bahwa aku selalu melupakan yang
selayaknya terjadi. Jujur ini bukan pura-puranya hati, tapi waktulah yang
memudarkan ingatan perasaan.
Aku
selalu memicu ingatanku untuk bergerak lambat dibanding logika yang sombong di
hati ini. Aku bahkan lupaalasan apa yang kau buat untuk menyakitkanku. Ingatanku
terlalu berbahaya untuk kau ketahui.
“aku
yakin beberapa saat ini kamu selalu melirik kronologiku” benar, bahkan aku
berani berteriak untuk menyetujui perkataanmu itu jika benar kamu akan
menanggapinya. Bagaimana tidak, hanya aku yang tidak berani mengakui aku sempat
menjadi kekasihmu. Bahkan aku menghapus potret kenangan kita. Ketika satu
gambar yang selalu kau puji dengan kata-kata “cantik”, iya, kamu selalu
mengatakan aku anggun, dan cantik. Aku baru menyadari kamu tidak bercanda untuk
membuatku senang.
“apa
kamu haus untuk mencari yang terbaik dan selalu terbaik, dan saat ini kamu
hanya selalu menjadi apa adanya yang selalu menerima apa adanya” aku tau itu
hal utama yang akan kamu ucapkan jika aku menceritakan semuanya. Apa aku
sehebat ini untuk menghindarkan ingatan?.
Mereka
selalu benar untuk menyatakan kepedihan yang kurasakan, tapi tidak untuk
bahagianya ketika mengingat setiap sore kita menghabiskan waktu sepulang
sekolah. Alasan palsu yang kau beri untuk orangtuaku hingga kau berhasil untuk
mencari celah selalu bersamaku. Hanya kamu yang bisa seperti itu.
10.11.11.
tanggal ketika kamu menggenggam tanganku dan mengutarakan maksudmu utnuk
menjadikan pacarmu. Aku bahkan selalu menolak, tapi setelah 2 minggu aku
menjalaninya, aku mulai menerimamu sebagai kekasih, bahkan itu terhitung cepat,
keahlianmu memang meluluhkan hati wanita. Hanya kamu, yang secepat itu merebut
hati ku, selebihnya, butuh waktu berbulan-bulan agar aku bisa menerimanya.
“kenapa
tidak kamu saja yang mencoba menghubungiku?” apa itu akan kamu ucapkan juga, ?
aku rasa itu hal yang tepat, sebab aku lah yang memikirkan penuh tentang
dirimu. Tapi bukan saat ini. Nanti ketika aku yakin bahwa aku memang merindukan
senyum khas mu itu. Nanti ketika aku membutuhkan dadamu untuk ku bersandar,
nanti ketika aku bisa menguhkan hati yang rapuh ini, nanti ketika aku bisa
bersandiwara akan kerinduanku. Iya, nanti.
“aku
tak akan menolak kehadiranmu yang benar inginkan semua itu” hanya itu kata-kata
yang ingin aku dengar dari mu. Tak usah dengan semua pernyataan yang membuatku
tertegun, hanya kalimat itu.
Kala
kamu akan mengajakku berpacu teriak ditengah hujan, dipinggir pantai. Tempat yang
setiap hari harus aku lewati, sebab bayanganmu selalu berlari dipinggiran laut.
Salah satu batu yang dulu sempat kupermanentkan tulisannya, “W.R.10” masih ada.
Hanya saja seragam sekolah ku tak lagi kugunakan. Kapan kamu akan
mengunjunginya bersamaku?
Fingerboard,
jurnalist, komunikasi, musik, Fall for you, hujan, dan segalanya yang selalu
menjadi latar cerita. Apapun itu, suatu saat aku akan menjadi apa yang harusnya
aku fikirkan. Sepertinya jebakan masalalumu masih berlaku untukku. See you !
~Sesaat aja kok, tenang jangan terlalu percaya :D
Komentar