Toh Anak Kuliah Juga Pernah SMA



“Jadi gimana linggis dan goloknya?” pertanyaan pilihan yang membuat cerita tadi berulang di ruangan PRM yang hanya disejukkan dengan kipas angin gantung.

“hahahaha” tawa penyiar berambut pirang itu membohongi perasaan yang sedikit tidak enaknya.

Anak SMA memang begitu? Boleh berfilosofi? Bukannya kita bertiga pernah mencicipi 3 tingkat itu ya?
Soal penampilan? Memang lebih nyaman suka pakai seragam sekolah sampai selarut hari, Seperti hari ini. Masalah ucapan? Memang 50:50, ada yang benar kadang ditambah dengan yang palsu lalu dikurangi kebenarannya atau malah sebaliknya.  Perasaan dan hati? Menyembunyikan perasaan seolah-olah bukan untuk tersakiti malah untuk melihatkan kedamaian.

“Apalgi kalau anak kuliahan bertemu dengan anak SMA itu? Apa mungkin anak kuliah sedewsa itu?” tambah penyiar resta yang mengira-ngira jika saja itu terjadi

Penyiar berambut pirang itu hanya mengatakan dan melagakkan seolah-olah kejadian itu sedang terjadi.

“Dek, jadi gimana? Beneran mau balikkan?” Tanya nya seolah sedang mengintrogasi anak SMA yang mengajak gerombolan sahabatnya itu.

“kalau buat sekarang enggak kak, dia kan pacar kakak, kenapa Tanya seperti itu?” balik Tanya nya pada penyiar itu, anggap namanya A, dan anak SMA itu B.

“bukannya status kamu seperti itu?” (A)

“ehem,*tersenyum lambat*” pastinya dia hanya ngeles. “dia berkata kalau kakak tidak mau melepaskannya dan malah dia telah berusaha meninggalkan kakak” (B)

“wah, bukannya dia yang mengemis untuk tetap bersama ku? Bahkan takut untuk tidak bersama ku” ujar ku menceritakan semuanya (A)

“dia setiap hari mendekatiku, memulai pesan teks dengan percakapan yang dekat” (B)

Sudahlah ceritanya hanya untuk membenarkan diri sendiri dan mencitrakan semuanya. Mungkin seperti itu jika bertemu, mungkin.

            Lalu bagaimana jika masalahnya belum selesai saat itu, dan harus dilanjutkan beberapa hari kemudian? Apa perlu si A itu memperagakan lagi? Dirasa sangat perlu, boleh dilanjutkan?
Begini loh ceritanya…..

Si A mendatangi Si B di tempat biasa yang mungkin mereka kenal, sekolahan. Lalu teman-temannya rebut dengan kedatangan Si A seolah ingin mengobrak abrik gedung bertingkat 3 itu dengan alusinasinya. Bisa dibayangkan ekspresi cemas si cowok itu ketika melihat dua wanita yang sudah terlalu lama disimpan dari kebenaran itu. Bisa diberi inisial C untuk si cowok itu. 

“ada apa?” (C)

“aku mau bertemu dengan B, untuk menanyakan semua kejanggalan ini” (A)

“loh kamu kira apa kak? Kamu Tanya saja langsung pada laki-laki ini!” (B)

“bisa kamu jelaskan?” pinta si A pada laki laki itu

“mau jelaskan apalagi?” (C)

“kamu kira aku bias menunggu kebohongan selanjutnya? Sekarang kamu bisa kembali padanya!” (A)

“kamu selalu membuat subtitusi percakapan seolah kamu memilih satu orang” tambah Si B

“lalu aku harus apa?” (C)

“kamu pilih dia, dan aku pergi” (A)

“aku masih ingin bersama” (C)

“saat ini pun aku tidak mau dengan mu, aku dan kakak ini sudah tau apa yang sebenarnya terjadi” ungkap si B dan itu membuat laki-laki itu terdiam.

Dan endingnya laki-laki itu pasti sendiri dan kedua wanita itu telah memalingkan matanya.

            Untuk sementara begitu sih. Lalu kalau tidak seperti itu mungkin hanya menyelesaikan dengan kata menghilang dengan baik-baik dan membuat laki-laki itu penasaran bertanya kebenaran yang akan terungkapkan suatu saat nanti

“jadi anak kuliahan itu bagaimana?” ungkap penyiar ceria yang menyelesaikan tugasnya itu.

Ya bagaimana lah. Mau berkata apa? Tergantung siapa anak kuliahan itu lah ya. Toh, dulu anak kuliah juga sempat SMA kan ya?
By: 3 Nuansa 17

Komentar