(Cerita yang ditulis 2 penyiar radio muda)
Aku kebagian on air jam 12 siang, hari ini. Waktu dimana umat lebih
menyukai istirahat, makan, dan tidur, maka disaat itulah kami mencoba
merayu telinga-telinga mereka dengan lagu-lagui lawas. Segemn kami
lagu-lagu tahun 70 hingga 90-an. Menurutku, ini ibarat “lapar ketemu
nasi” menyukseskan niat mereka untuk benar-benar telelap di jam-jam
tersebut. You know, lagu lawas bikin ngantuk.
Dengan penyiar di sesi sebelumnya, aku sempat berkelakar dengan
imajinasi ini. Dan kami tidak mampu membabat imajinasi ini agar tidak
semakin liar menelusuri kreativitas di belahan-belahan otak kami.
“Bang. Kira-kira ntar kalo udah 30 atau 40 tahun lagi, lagu lawas itu
seperti apa lagi ya bang.” Aku mencoba membayangkan, dan sepertinya
gurauan aku dengan penyiar wanita ini dengan masa 30 tahun itu berbuah tawa menggelitik.
“Iya juga yah. Mungkin kayak gini…” Aku mencoba memperagakan.
“…baiklah pendengar sekalian, ada permintaan dari Salsa. Katanya
pengen dengerin lagunya Agnes Monica yang paralyzed.” Sumpah! Tawa kami
menggelegar saat itu juga. Membayangkan lagunya Agnes Monica yang
seperti itu kelak bakal jadi lagu lawas seperti halnya lagu-lagu Bob
Tutupoli, Utha Likumahua (Alm), Vina Panduwinata, dan kawan-kawan.
Atau mungkin 30 tahun lagi ada yang nge-request lagunya nidji yang
“Sumpah dan Cinta Matiku. “…. Salam buat Erik yang menemani aku waktu
itu nemenin nonton film Tenggelamnya Kapal Van Derwick. Dan
Alhamdulillah kami akan segera menunggu kelahiran cucu kami yang ke 4”…
Tawa kami semakin membuncah.
Kami tidak ngeledek. Tapi kami hanya bermain dengan imajinasi, begitu
waktu akan merubah segalanya. Yang kita kira saat ini akan dikira aneh
oleh orang lain di beberapa waktu mendatang. Bisa jadi waktu memang
mengabulkan khayalan dari penyiar muda yang memogramkan pikiran ke hal
seperti itu.
Oh ya, roda memang berputar, saat ini bisa saja di atas atau di
bawah, pasti suatu saat akan menjadi 180 derajat di baliknya. Kata
sederhana memang menjadi “sempurna” jika orang-orang eleghant
menggunaknnya. Tapi bagaimana dengan bangunan yang menggunakan kata-kata
seperti itu?. Bisa jadi call sign perusahaan ini menjadi lebih sempurna
jika bangunannya kembali seperti beberapa tahun yang lalu. Membayangkan
citra yang lebih waw (mungkin).
“bang kira-kira beberapa tahun lagi pewaris direktur nya siapa ya?
Apa mungkin anaknya” sebuah lintasan aneh untuk dipertanyakan saat pagi
menjelang pukul 12 itu.
“apa mungkin cucunya, 30 tahun lagi siapa yang tau dek” gumaman
sederhana yang tak harus di lanjutkan untuk diperbincangkan. Ini bukan
hal serius untuk di lanjutkan.
Lalu penyiar swarna itu menyampaikan hal yang sama kepada PRM cantik
bertubuh tinggi dan ramping yang sekilas membaca tulisan ini. Dan
menanyakan hal yang sama. Dia hanya menjawab simple : “kamu pikir ini
perusahaan saudara!”
Dari kepanjangan yang pernah di lontarkan oleh sekretaris cantik (harva) memang seperti itu -_-. 30 tahun lagi.
“bang, berarti untuk acara kidung lawasnya, bisa jadi pemara utamanya
abang” sedikit ungkapan bodoh yang membuat pikiranku menertawakan
kejadian puluhan tahun berikut itu. Tidak harus kan, mencoba
berimajinasi seperti itu?. Apa mungkin akan pikun dengan pergerakkan
lambat. Mana tau tidak berubah seperti film A were wolfboy.
Sudahlah,
apa jadinya jika setiap hari membicarakan sekarang atau 30 tahun lagi,
artinya memang tak usah dipersulit dan dibuat rumit, hanya untuk
menggambarkan hal yang tidak mungkin menjadi mungkin, dan itu membuat
gelitikan kecil di tenggorokkan. Suatu saat nanti lagu anyer akan
menjadi lawas juga, dan akan di nikmati juga oleh para generasi muda
puluhan tahun berikutnya.
write by:
Cardio Resta (@amalhendra) Refrain Swarna (@ulanwln)
Komentar
Yah, dari ngomongin 30 tahun lagi, jadi ngomongin jomblo. Tapi kan bener, aku mana ada kepikiran 30 tahun lagi. Yang aku pikirin cuman hari ini, besok dan kemarin.
tapi ya kemarin jangan dipikirin laaaah