Laki-laki Itu



         Mungkin malam ini bukan malam keberuntungan bagi Wika. Hari menunjukkan Pukul 20.15, sementara dia terjebak hujan deras di persimpangan menuju rumah. Kondisi pun sangat miris, genangan air mencapai betis melumpuhkan langkahnya untuk lanjut. Teman terdekatnya telah ia coba untuk dihubungi, tapi mereka tidak bisa menjemput Wika. Sampai akhirnya dia hanya terdiam di sebuah warung.

             Wika menatapi hujan yang kian lama menjadi seperti mimpi buruk baginya. Semakin dingin, semakin Wika membenci kondisi itu. Seolah dia harus menghentikan air-air yang berjatuhan dengan sia-sia, secepatnya. 

            Dia mencoba memejamkan mata hingga suasana akan tenang. 

“mengapa tak berlari kerumah, bukankah kau selalu melakukan itu?” tiba-tiba suara itu memaksa Wika untuk membuka mata. Sosok lelaki berjaket hitam yang sepertinya juga kehujanan saat akan pulang kerumah. Tapi Wika sangat gagap menjawab pertanyaan lelaki itu.

 “sepertinya terlalu bodoh untuk melakukannya, perlahan harus membunuh semua itu, agar bisa pergi dan tak terikat dengan kenangan” Wika ketakutan setelah melontarkan kalimat itu. Dia membuat laki-laki itu hanya terdiam, dan tidak berhenti menghisap setengah rokok yang sejak tadi dihisap. Dalam mata lelaki itu Wika tau akan penyesalan, tapi Wika tak ingin lebih jauh menanyakannya.

“naik ke motorku, biar aku antar kerumah” perintahnya kepada Wika. Tetapi Wika keberatan, karena dia sudah terlalu kedinginan untuk melanjutkan perjalanan. 

“Aku sudah terlalu lama menahan dingin, lebih baik menunggu disini” tatapan tajamnya berbicara pada laki-laki itu.

“tunggu disini, jangan kemana-mana!” sehingga laki-laki itu berlari meninggalkan Wika, dia hanya kebingungan melihat tingkah aneh laki-laki itu.  

       “Aku selalu senang jika hujan datang, aku bisa tertawa dan bahagia bersamamu, aku bsia memelukmu erat-erat dan takkan lepas. Apalagi kalau hujannya malam hari seperti ini, aku senang didekatmu. Kau juga begitu kan?” teriak Wika mengalahkan hebatnya suara hujan di atas motor. “aku juga begitu, bahkan lebih bahagia darimu, meskipun tak ada hujan, disampingmu tujuan ku setiap hari, kamu tau itu?” balasnya yang membuat Wika tersipu dan semakin memeluk erat Andre. Andre adalah kekasih Wika sejak kelas 2 SMA. Tapi sebelum kelulusan Wika memutuskan mengakhiri hubungannya, karena Andre yang tak bisa memilih Wika atau mantan kekasihnya. Tapi sebenarnya di dalam hati Andre hanya Wika. Buktinya Andre hanya memikirkan Wika, Andre tak berani mencoba menjalin hubungan baru, karena ia yakin Wika akan kembali. Saat Wika ulangtahun Andre datang kerumahnya membawa kue dengan warna kesukaan Wika,”Putih”. Tentu saja Wika sangat senang, Mereka menghabiskan waktu berdua hingga  waktu menunjukkan pukul 11 malam. Saat Andre melangkah pulang meninggalkan teras Rumah Wika, dia sempat berkata “Aku gak bakalan pergi”. Saat itu Wika yakin dia juga tak akan pergi dari Andre. Tapi Wika hanya takut untuk terluka, Lagi.

“Ayo kesini, aku antar kau pulang dengan payung besar ini” Teriak laki-laki itu membuyarkan lamunan masa lalu Wika. Bayangan kenangan itu berlarian di benaknya dan mengharuskan Wika meneteskan air mata kerinduannya. 

“Terima kasih, tapi apa kau yakin kita akan sampai? Jika aku tak kuat?” jawab Wika agar dia tak kehujanan sampai rumah, dan menghindari Hujan.

“tapi aku jamin, kau akan sampai rumah” lalu Wika mengikuti kata-kata lelaki itu. Tubuh Wika yang mulai lemah membuat dia merasa pusing. Bagaimana tidak dia harus menahan dingin selama 3 jam. Saat dipersimpangan jalan, Tiba-tiba Wika jatuh dan tak sadarkan diri. Laki-laki itu langsung menangkap tubuh gemetaran Wika dan melepaskan payung yang ada digenggamannya. Dia berlari mengangkat Wika menuju rumahnya. Saat itu, rumah lelaki itu lah yang lebih dekat dari tempat kejadian itu. Sedangkan rumah Wika masih setengah perjalanan lagi. 

            Laki-laki itu sangat mengkhawatirkan Wika, sudah pukul 11.30 malam, tapi Wika tetap diam tak sadarkan diri. Walaupun pakaiannya sudah digantika Reina adik perempuan Laki-laki itu. Reina menelpon ke rumah Wika untuk memberi kabar bahwa Wika berada dengannya. Untungnya ibunya tidak marah, karena dia tahu Wika memang sakit. Sudah tengah malam dan akhirnya laki-laki itu tertidur di sofa sebelah ranjangnya, tempat Wika berbaring. Tapi saat itu juga wika terbangun, tanpa suara. Dia duduk dan menghampiri laki-laki itu. Dia melihat sekeliling ruangan itu, dan tercengang. Kamar kecil yang nyaman, berwarna biru muda dan dipenuh aksesoris Chelsea. Mata Wika tertuju pada meja disamping lemari tepat berhadapan dengan tempat tidur. Disitu tersusun rapi, dua scrapbook, Kotak kaca indah, pin, surat, dan lainnya. Wika mendekati meja itu, membuka lembaran-demi lembaran scrapbook dengan gambar dan tulisan-tulisan indah. Dia hanya tersentak tak percaya. 

"Aku menemukanmu, yang lebih baik dan hebat"
Cerita bersama hujan, aku dan kepastian. Selang menjinaki hawa, ini..Aku menulis cerita kita.
Konjungsi khayalan berirama menghangatkan kenangan. Jumpa Kita ditemani beribu rintik hujan. Rangkai tulisan air, percakapan cinta dan kasih sayang.

"Bagaimana aku hidup tanpa mu"
Seolah aku oksigen yang penting untuk hidupmu. Mereka berkata hujan adalah cerita romantis.
Aku rasa tidak. Setiap saat aku bisa merasakannya. Tapi disaat hujanlah aku bisa berekspresi. Kanal !
"Apapun akan aku lakukan untukmu"
Itu bukan janji? Aku hanya merasa senang.
Perjumpaan pertama kita dikala hujan malam saat pulang, 27 Agustus 2012. waktu itu ku tutur obrolan biasa, jalan jauh untuk berbalik arah hanya untuk lebih lama bersama.
"Aku suka gelap, Kamu suka hujan, Keduanya identik"
Kata-katamu itu susah dilupakan. Mungkin waktu itu aku belum terbiasa menikmati hujan bersamamu. 
Hanya aku masih berjalan di alur kemarin. banayk sekali hujan lain yang menghampiri.
Sulit terlupa ditanggal 26 ke 3, itu pertamanya yang kurasa. Rasa tidak percaya itu denganmu.
"Faktanya aku hanya mau hujan-hujanan bersamamu"
Aku kira kamu punya banyak kenangan dengan hujan. 
Tapi kamu menegaskan hanya aku yang ada dibenakmu saat kala hujan berlari-lari. 
Karena aku kekasihmu yang abadi didalam hujan. aku percaya, Hanya aku rumit berfikir. Aku bukan gadis pecinta hujan, hanya saja aku hidup di dalam cerita hujan.

"Disaat hujan aku bisa memelukmu lama, Aku suka hujan bersamamu"
Ya, begitulah. Aku hanya nyaman  memeluk dan didekap hangat. 
Saat hujan lebih tenang dibanding cuaca panas. Wajah bahagia ku saat menatapmu. Demi apapun aku selalu menulis dihatimu.

"Aku ada disaat kamu butuh, pegang kata-kata ku"
 Aku selalu percaya. Saat aku belum ingin pulang, kamu berkata seperti itu.
 Masih ada hujandihari lainnya"
"Aku percaya kamu, Aku percaya kita"
Walaupun sering aku meninggalkanmu. Tapi aku tidak bisa beralih.
Aku selalu tetap denganmu. Kamu pun begitu tak berubah terhadapku.
          Tulisan itu memaksa Wika untuk benar-benar menyerah. Tak ingin membuat suara, Wika langsung pergi ke ruang tamu menuju kamar Reina. Saat itu Reina belum tidur, lalu reina tersenyum tipis melihat kedatangan Wika yang berdiri didepan pintu.

“lama tak kelihatan, terlalu sibuk?” Lontaran pertanyaan yang membuat Wika menangis. Belum sempat menjawab, Reina melanjutkan kata-katanya.

“waktu kakak pergi, Andre hanya menunggu, dia yakin kakak akan kembali. Andre selalu menceritakan tentang kakak, semua kenangan, semua pemberian kakak sedikitpun tak boleh ada yang menyentuh, termasuk Reina. Sejujurnya dia telah berubah menjadi lebih baik, dia tak bisa berpaling dari seorang wanita yang dianggapnya spesial. Tapi kakak malah asik menyalahkan dia seolah dia tak pernah memberikan yang terbaik untukmu. Waktu itu Reina pernah melihatnya bermain gitar di kamar, menyanyikan lagu kenangan kalian berdua berulang-ulang. Kadang memutarkan rekaman suara kakak di tengah malam.” Seolah reina menyalahkan Wika yang sedang guncang dengan kenyataan yang telah ia lupakan. Selama ini Wika melupakan andre, bahkan sosok diri Wika sendiri. 

“Maaf, Mungkin Aku terlalu sibuk berlari dan berpaling sehingga melupakan Dia. apa benar dia masih sama? Aku terlalu takut.” Wika semakin mengerang mengakui kemunafikannya melupakan Andre.

“Kau tau , sangat senang melihatmu ada di rumah ini. Tapi aku khawatir, dan kau masih saja menyusahkan ku. Tubuhmu berat!” Seketika Laki-laki itu menyela pembicaraan Wika dan Reina.
Wika berusaha keluar dari ruangan itu, tapi sayangnya dicegat dengan pelukan erat darinya. Dia memberontak tapi tetap tak bisa, saat itu juga Wika menangis sejadinya. menyebutkan satu nama dengan pelan “Andre!”

“Aku tau kau tetap sama, aku masih di hatimu. Aku minta maaf soal masalalu yang sempat ku kacaukan. Aku menyesal kau pergi. Detik ini juga aku perbaiki semuanya, mengembalikan hujan dan pelangi mu, menghilangkan abu-abu di putih. Kau tak usah berlari lagi, aku akan menggenggam dan menahan mu disini. Percaya!” 

           Sepenggal ucapan itu membuat Wika yakin dia akan sama dan takkan melumpuhkan rangkaian cerita hujannya bersama Andre Laki-laki itu. Membuka hati menerima Andre dan memudarkan ketakutan saat Hujan serta menunggu pelangi setelah itu.

Komentar

uqwatul alma wizsa mengatakan…
kok wika sih??? :3
Senior ada loh dek yang namanya wika :/
iya kak? gak tau --" wika itu nama tokoh cerpen ulan sejak smp looh --"
uqwatul alma wizsa mengatakan…
hahaa... iya, bp 22 itu, tmennya kakak.. awas yaa kak aduin :v
ada pula gitu yaaa --" mana tau kak, ini serius mah.. u,u