Ulasan Wanita itu.


            Bukan saat ini, tapi sebenarnya dahulu. Kehilangan gambaran diri disetiap saat bukan kah bodoh? Wanita itu bukan mempermainkan diri sendiri, hanya saja wanita itu tidak berupaya sama dengan sejenis lainnya. Seperti terjemahan kode wujud persamaan. Dia merasa merubah untuk selamanya dirinya adalah baik. Apaun itu benar, tapi sosok mencintainya pasti akan penuh tanya tanda-tanda kebingungan. Wanita itu dewasakan usianya meskipun terjauh dari pergaulan semestinya.
            Menutup peluang untuk bahagia. Tidak seperti itu kah yang kalian pikirkan. Lihat suaranya yang mengisyaratkan untuk mengerti. Wanita itu kian lama tidak dikenal khalayak lagi. Hijab indahnya memukau, tulisannya bukan tentang kerinduan, hanya tentang sains dan kalibrasi hati. Beri dia jeda untuk kembali, mengenal dirinya. Sedikit kenanganpun kiranya dia akan berlari. Lini waktu tak mampu bersaksi akan kediaman hati wanita itu. Menurutnya putih akan membiaskan warnanya menjadi pelangi dengan sejuta warna, tetapi tetap putih.
            Dikabarkan bagaimana jua, dia telah menyimpan syair nyanyian dan renungan. “Setiap insan melihat gambar dirinya disetiap gambar yang dilihat”. Ketika semua tulisan hadir memenuhi penglihatan wanita itu, tapi dia akan berteduh. Alasannya hanya satu, itu tidak ada gunanya. Hanya wanita bodoh yang masih berpola seperti pelajar yang terbelenggu dengan aroma cinta, dan selalu merebut sentuhan kasih sayang yang sama. Wanita itu meniatkan sejenis lainnya yang terlihat serupa untuk sadar.
            Wanita itu tak lagi berungkap pada angin, sebab angin akan bercerita pada pohon. Jangan salahkan Angin, wanita itu berpesan agar lebih hati-hati. Hari-hari wanita itu lebih berharga dibanding bertukar dengan kejayaan, sebab tak ada yang akan menebak segala lelucuan aneh. Tipuan selalu berhasil di kadang-kadang waktu!
            Identitasnya disulitkan, dengan lintang greenwich. Dengan bertelegram dan sosok aneh  tak diidentifikasi. Pikirannya masih batu sandungan yang memang ada pada puisi. Yang pada akhirnya dinyanyikan dan dinikmati pencinta sajak. Istana poem sebuah rak di ruangnya menepikan ambigu. Wanita itu tak mungkin memahami pidato penakhluk untuk tertakhluk. Hari-hari itu dianggap dingin agar ujungnya tertemui. Dia meneruskan sepasang panjang untuk berlari ke arah orang itu.
            Proses yang mengalir tanpa perencanaan, cukup dijumlahkan untuk mendapat fenomena absolut. Jejaknya diikuti, wanita itu senantiasa tidak mengalirinya. Sebab “merangkul prcinta yang ada diantara mereka” lebih baik. Takaran menepikan kesalahan mutlak wanita itu. Rongga-ronggga yang dimaksud meneruskan cahaya kepadanya. Haknya mendambakan kepuasan wanita itu berkelana menemani kupu-kupu yang terlupa lini.
            Berusaha menempatkan keahlian disisi perumpamaan. Saat Tom tidak ada pun wanita itu menguatkan. Menghentikan jeritan terbaru dari sejenis lainnya yang bukan syair dan sajak. Hingga tab tertutup dengan pilihan yang dirayakan tepat.

titip pesan wanita itu.
~Pelumpuhan hujan.

Komentar