Serpihan Matematis


        Sembari bertanam kepercayaan,satu kisah belum tentu bisa diselesaikan. Saat cermin berlari meninggalkan badai, yang dianggap satra! Segemercik inflis menyetrika kerunyaman poligon. Apa artinya muaian perasaan dengan rumus-rumus logika? Seseorang belum tentu mempunyai teorema fisis dengan vektor dua arah itu! Multimeter sayup hingga mencapai jarum maksimum. Ketika itu, kestabilan tegangan masa lalu belum tertuang. Mereka mempunyai laboratorium untuk bercengkrama tentang perasaan yang tak terungkap. Fortuna,! itu yang terkunci dengan pembuktiannya. Ini bukan kasus dimana negasi adalah penyelesaian sebuah simbolisasi. Tetapi layaknya patogen dengan empat kuadran yang selalu menamai diri trigonometri dengan pengembangan yang teliti. 

         Ungkapan itu tak mungkin diralat dengan mutlak ataupun nisbi. Sudah terjadi kan? Solusinya mendivisikan peristiwa hingga terbentuk pelajaran yang berkutip. Memang semuanya limis jika tetap menjadi serpihan kemistri. Coret-coretnya, hanya asumsi yang masih butuh sistem, jika dan hanya jika. Kronologi yang berbilang selalu real, dan mempunyai jari-jari untuk meluaskan lingkaran ambigu, sama saja bukan penyelesaian. Fluisis, tanpa henti, belum tentu itu mendapat tekanan yang kuat, tergantung. Semua perlahan memudar, ketika Tuhan tak mengizinkan semuanya terungkap dengan semudah khayalan. Nash, ingat cerita itu bukan? Bukankah itu pahit dan seorang John memiliki teman bayangan, tapi memang nyata. Menurutnya rumus terhebat untuk nobel hanyalah cinta dari wanita. Sudah lewat ber abad-abad lalu.

            Abstrack, selalu dihati. Dewasa dan berkarakter. Butuh proses untuk itu, ingat bukan berakhir. Setiap kata, bermateri tanpa pengulangan, dan bermanfaat. Pola pikir serta sudut pandang tentang sisi. Tapi memang sulit melepas variabel dan menjadi konstanta. Semua berlomba dengan alasan modulus yang masuk akal. Semua dilihat dengan lensa yang relatif mempunyai jarak titik api yang harus diatur. Hubungannya membentuk kurva yang linear dan arus yang mengaliri rangkaian sejarah. Senyuman itu masih simetris kah?
Pertaksamaan keinginan menyambung kisah untuk menyembunyikan kemah catur dan penyamaran bait agar terlihat tak ada apa apa. Perlambatan untuk berpaling memaksa tangan untuk selalu menggenggam dia, orang yang selalu mereka ceritakan setiap hari kepada setiapnya yang ingin atau bersedia mendengar. Pabila suatu waktu mendeskripsikan suatu dimensi dengan ketentuan yang berbeda, pasti semua tak akan sama. Setiap atmosfer selalu mempunyai satu tekanan seimbang, dimana saja berdiri. Gravitasi tentang kehampaan, lemahnya pelampiasan. 

           Sejenak ini gemuruh mengalihkan syair hingga ke sajak lampau. Menceritakan kembali kesuraman dan difersi dengan dikesampingkanya kegelapan. Meskipun bukan sama, tapi masih cerita yang serupa. Benar, aksen itu direkam mengelilingi persegi dengan rotasi terhambat. Tidak kita jika tanpa kekuatan negatif untuk berderai. Tapi itu berhasil untuk memisahkan, tetap asumsikan untuk yang lebih baik. Serautnya dideskripsikan dengan diksi yang mujarab, sehingga tanpa sayupan zaran.

           Ratu ilmu mengatur upaya. Matematisnya perjalan dengan banyak simpangan. Menghitung lamda persatuan waktu untuk memastikan setiap apapun. Selebihnya memang kepastian. Tuhan memang selalu adil memasang banyak cerita dengan kerunyaman yang bertingkat. serta memberi jalan untuk menyelesaikannya dengan persamaan logika masing-masing insan. Padahal itulah lingkaran yamg tak berujung.
Memulai sesuatu kembali dengan coretan hitam diatas bidang datar, seupayanya disimpan dengan keahlian yang bisa terlukis dimediterian kerintikkan senja. Peramal bersorak untuk mempercayai sugesti yang tak patut di anggap benar, sebab jika benar maka elemen mana yang tak benar? Berita-berita bertaburan menggandakan diri dua kali lebih banyak di jangka waktu yang singkat. Ketelitian yang tepat dengan skema serta prosedur yang tepat. Aturan-aturan itu ditiadakan sehingga arus bolak-balik itu menyelinap kaku tanpa nada yang tepat. 

                Bukan kah setiap orang menganggap dirinya dewasa? Lalu siapa yang akan mengalah? Bukan kah dewa menolong? Tapi kemana dia. Bapak itu telah lama tidur, percayalah. Untuk itu kembalilah pada imajinasi dihari ini. Bukan hanya alusinasi dengan perkataan awal yang sama. Mereka juga salah untuk menjalar di hembusan pelangi yang membias. Ini bukan petuah lama, lihat hatimu, dengarkan suara hati. Secara psikologis ini bukan tentang etimologi yang logis. Pemahaman yang benar-benar matematis tentang kenngan. Karena itu serpihan selalu diselesaikan dengan melewatkannya, atau mengajaknya untuk kembali. Terangkum dalam matematis yang semua orang maksud tentang ini. Tentang kisah tanpa isyarat berhenti di pemecahan yang rumit. Anda dan mereka boleh mencari teorema sendiri untuk menuliskan rumus-rumus baru yang disederhanakan dengan pemisalan, tapi bukankah itu sulit?

semuanya bisa menginspirasi :)

Komentar

Unknown mengatakan…
Saya merasa harus memiliki IQ dan pemahaman yang tinggi untuk membaca ini, salut.. Pintar sekali dalam pemilihan kata, saya menilai kamu adalah orang yang sangat jenius . jempol tak hingga untuk kamu
Unknown mengatakan…
Ajarin nulis dong kak...

Sejak terakhir kali cici baca cerpen sma puisi kk 3 th yg lalu, tulisan kakak sekarang jdi lbh baik
udah lama banget ini, maaf ya baru cek komentar.. alhamdulillah makasih banyaaaak
ya ampun cici juga pinter kali nulisnya, blog cici ada?
3 tahun lalu dek? masih ada? maaf ya kakak baru cek komentar blog heheheh