Memang sudah lama kita tidak seperti ini, bertatap muka dan menghabiskan waktu berdua saja. Setelah banyak kekeliruan yang mungkin sampai saat ini, aku tak berani menanyakannya. Hanya saja aku mengurungkan banyak pertanyaan yang akan membuatmu bingung untuk menjawabnya. Iya, aku berusaha mencoba untuk tidak mencampuri urusan pribadi mu, iya. Tapi, setiap saat kamu harus bercerita tentang apa saja, sebagai pendengar yang baik, aku memng harus menyimak setiap ocehan yang khusus kau rangkai untukku.
Kita berjumpa di pukul 6 sore menjelang waktu pelepasan puasa, seperti biasa tanpa perencanaan. Memilih tempat untuk bercengkrama, hanya saja berhenti di tempat sederhana yang belum pernah aku kunjungi. Semula kita hanya diam, sesekian lama tidak terbiasa melakukan obrolan semaam apapun. Sesuai keinginanku, kita ada jarak.
Seperti biasa, kau selalu bercerita tentang apapun yang menurut ku itu penting di hidupmu. Aku berusaha menahan diri untuk tidak bercerita sedikitpun tentang hari-hari ku. {adahal kita adalah pasangan yang selalu bertukar cerita. Tapi aku hanya sedikit tidak menemukan dirimu seperti kemarin. Kita sudah berbeda, selagi aku hanya bisa memendam apapun yang selalu akan ku tanyakan.
Banyak tanda tanya yang harusnya ku ajukan, banyak kekeliruan dan cerita yang harus ku pastikan kebenarannya, tapi aku selalu mengurungkan niat untuk tidak berkata tentang itu. Aku hanya tidak suka berdebat tentang ini denganmu, aku hanya tidak ingin menambah masalah. Maaf, aku memang berbeda, dan sengaja berbeda. Pernah aku bertutur, sebaiknya kita universal.
Kala itu pun setelah malamnya hari, aku mengajakmu untuk bercengkrama. Memikirkan apa yang akan ku utarakan. Aku mencari celah agar semua kembali seperti semula dan membuang semua cerita palsu tentang masa lalu mu itu. Aku mengajakmu memulai di tanggal 26 Agustus depan. Kita berjumpa di sebuah tempat yang kita tidak tau satu sama lain. Dan di waktu yang tidak di tentukan. Seandainya kita memang akan kembali, pasti akan bertemu saat itu. Dan Segala persyaratan yang telah ku sebutkan.
Apapun yang terjadi, tuhan punya rencana. Setiap hari aku selalu akrab dengan adik perempuanmu. Aku sudah sangat bisa merasakan kedekatan dengannya, dan dari dia lah aku tau segalanya. Apa yang ngin kau katakan, apa yang terjafi dengan mu dan mantan kekasihmu yang selalu datang tanpa undangan itu. Aku tidak ingin mendengarnya, tapi hanya ingin kau benar-benar tau, bukan aku lah yang menyebabkan keadaan mu seperti ini. Dan bukan aku lah yang harusnya berubah.
Tanpa komunikasi, dan menunggu bulan dpan. Kita lihat saja apa yang akan terjadi. Seandainya aku punya banyak hati, pasti akan ku ceritakan siapa saja itu, tapi aku hanya ingin menahan amarah yang telah ku bagi. Banyak cerita yang harus ku susun bukan hanya cerita kita yang itu itu saja. Seandainya bisa, Aku dan yang lain.
Komentar