Aku menajuk luka untuk mereka yang selalu pergi menghilang. Tiba-tiba aku menjalin perih yang selalu mencari peluang jatuh. Aku sekitaran roda hitam yang akan hilang terkena panasnya landasan. aku putih yang mencari bersihnya warna tanpa noda. akulah abu-abu yang hingga kini mencari hitam dan putih untuk kepastian. Tapi aku berusaha merah yang memberikan kekuatan rapuh. Seolah juga aku seperti hijau tersinggah di setiap lahan-lahan yang indah. Tapi aku ingin menjadi ungu yang menakjubkan agar keberuntungan hinggap. Seperti merah muda yang lembut, dan biru yang mengalun lembut di pahatan jingga yang anggun.
Seperti apa, ya seperti itu. Aku ingin menghentikan hujan yang membuat semua orang terluka akan kenangan indah yang mereka maksud. Tapi aku tak ingin menabur kehangatan yang sukar didapati orang yang sejuk. Hanya saja sang gurauan petir melarang ku untuk mewujudkan keanehan rasa alam.
Sepertinya tuhan harus tau akan mereka yang sulit untuk berjalan serapi aku menyusun cerita menyakitkan. Perlahan Dia mengulurkan tangan yang elok pada semua makhluk yang hanyut akan memori bodoh ingatan luyam.
Apa kita selalu berbangga hati akan kenangan yang tak terlupa, indah atau pun sakit? bukankah tuhan selalu mengatur alur yang berjalan. Hanya kita terlalu sombong dan lupa akan masa depan yang telah Dia pilih. Ya yang terbaik.
Andaikan malaikat ada digenggaman ku, hanya seraut mimpi itu yang ku ingin perlihatkan kepada mereka pemilik masa lalu mengherankan. Dan kan ku raut pensil tajam untuk menulis itu semua. Kapan/ hanya mimpi.
Sekarang roda masa depan memanggilku untuk meneruskan ini. Tanpa masa lalu yang bodoh, dan harus ku hindari. Karena tuhan menyerupai semuanya untuk hidup yang terjal. Andai dan masih mengharapkan itu.
Komentar