Kita bukan terlahir untuk harus memikirkan bagaimana menghilangkan rasa rindu setiap hari. Kita hanya perlu universal dan memahami penciptaan hati yang terselip hasrat. Setidaknya saat ini kau dan aku memang terpisah. Tapi sebuah komitmen yang indah telah kita miliki. Apalagi yang harus dikhawatirkan tentang hati ku? Jarak bukan masalah yang luas untuk diperbincangkan. Kau menaruh hati pada dia yang bahkan baru kau kenal disana. Tanpa memikirkan disini kau meninggalkan hati yang telah kau ambil seutuhnya. Aku menyesali sikap penuh cinta dari seorang kamu yang menyaluti hati wanita.
Setiap malam kau mengirimkan pesan rindu pada ku, sudah begitu sejak kau pergi ke kota di pulau lain, memang harusnya begitu hampir tiga tahun ini. Kita berjanji untuk mengutamakan pendidikan, kelak kita kan sama-sama menjadi orang yang sukses. Kau selalu mengirim doa untuk kita, dan sudah menjadi hal yang tak bosan ku dengar. Hingga konyolnya aku selalu menunggu deringan ponsel yang pasti itu darimu.
Karena hubungan ini aku bertahan untuk menuntaskan kerinduan ini. Aku menjadi wanita yang hebat di mata teman-temanku karena sikap setia yang bahkan aku banggakan terkadang. Tiga tahun itu waktu yang lama. Kita termasuk pasangan hebat yang bisa melawan jarak yang sering dipermasalahkan setiap orang dalam hubungan.
Tapi itu berakhir sejak 2 bulan yang lalu. Kau tidak lagi rutin mengirimkan pesan sapaan pagi, siang, malam. Bahkan sangat jarang menghubungiku. Aku menjadi berbeda, memang kita berkomitmen universal, tapi tak harus berubah bukan? Aku mencoba menahan rasa curiga, yamg berkabut di hati ini. Hanya menyimpan dulu. sebagai wanita aku hanya mencoba percaya, aku yakin akulah pemenang hatimu untuk sampai kapanpun.
Aku menghubungi sahabatku yang ada di kota tempatmu berdiam. Memaksanya untuk mencari tau tentangmu, itulah sikap egoisku tentang perasaan sayang padamu. Mungkin berlebihan, tapi tak ada yang lain dipikiran bahkan hatiku.
"Dia masih pacar mu? dia sudah tunangan seminggu yang lalu"
Begitu sakitnya aku mendengar ungkapan itu. Aku bahkan tak tau mau teriak apa. Rasanya menghancurkan diri sendiri dengan kepercayaan bodoh. Untuk menikmati udara pun sedikit sakit. Aku belum bisa merangkai percakapan dengan mu yang sudah menjalin ikatan serius dengan wanita lain. Aku mengira hubungan kita lah yang akan berlanjut untuk diresmikan.
Setelah aku mendapatkan penjelasan darimu. Mungkin benar syair syair mereka yang lebih tau tentang cinta. Cinta dan hati bukan hal yang harus tersamakan. Hanya ada satu hati tersimpan, tapi cinta bisa saja akan kalah. Masalah hati yang pernah kau bilang menyatu itu akan ku heningkan.
Bukan sesaat aku melupkanmu, seperti aku mudah menerima cintamu. Bukan sejenak aku mebenci mu segampang aku menerima kehadiranmu. Sepicik apa hai yang melupakan cinta lama yang didasari komitmen rasa percaya? Ini akhir hubungan jarak jauh yang kita lewati.
Disini aku mencoba melewati alur dari awal kita memulai cerita, menumbuhkan rasa bersama, menulis kenangan-kenangan indah, memejam perasaan bahagia, mendengar pengalaman bersama, menunggu kepulanganmu di pelukan ku di kota ini, hingga menyadari kau bukan milikku, dan kau harus meninggalkan ku perlahan dengan cara mu yang sangat penuh kasih sayang.
Semuanya telah diatur oleh Tuhan yang tau segalanya. Nanti akan ada seseorang yang pastinya bukan seperti kau yang semudah itu meninggalkan hati yang telah layu. Aku tidak berani menyimpan semua cerita dan kenangan kita. Bahkan tak ingin menemukan sedikit saja tentang kau yang masih tersisia. Ini cara nya bukan?
Bahakn sejak kau menjelaskan semuanya, sudah 8 bulan yang lalu, aku masih teringat dnegan kebencian dan kebodohan. Minggu depan hari pernikhan mu, bahkan untuk memberi tau aku kau hanya sampaikan pada orang lain. Air mata ku alasan utnuk tidak ingin menjawab takdir. Hanya tentang kebodohan tentang kepercayaan tentang perasaan dan cinta. hingga saatnya akan ada cerita baru untukku, pastikanlah aku akan penuh hati-hati. Hingga aku bisa menghilangkan kebencian denganmu.
Tiga tahun itu terasa sia-sia untukku menunggu mu, seseorang yang selalu memberi pesan "aku akan pulang, dan sangat rindukan dirimu," aku sangat tidak bisa melupakan satu hal. Kita bukan hati yang disatukan. Sangat indah untuk menjadi wanita baru dengan harapan baru, pastinya cinta yang akan tulus memelukku nanti.
Komentar