Kita dan Cerita Kini

S e k a r a n g     a k u      m e m b a t a s i     d i r i    d e n g a n    c e r i t a    p r i b a d i .

L e b i h       b a i k        k i t a      b e r s i f a t      u n i v e r s a l     s a j a .


         Mungkin gambarannya memang seperti itu. Bukan hal yang tersengaja, melainkan sinkron perubahan perasaan. Apa kau juga melakukan hal yang sama bukan? Atau ini sikap saling dewasa kita dalam membaca situasi. Aku hanya berharap begitu. Banyak hal tersembunyi yang aku tidak pernah tau dari mu. Perbedaan pikiran yang jelas bahkan nyata. Sejalan yang terpisah. Aku masih bisa mendampingi mu, tapi apa seperti ini untuk seterusnya. Saling terbuka, ya hanya itu yang belum bisa kau tumbuhkan.

         Tidak akan ada kata terakhir, itu janji ku, bahkan kau yang duluan berkata seperti itu. Kini semua terbelenggu dengan sendirinya. Bacalah hatiku saat ini, apa kau pernah tau apa yang ku pikirkan tentang ikatan ini. Jangan berbicara aku sibuk dengan dunia ku, bahkan aku lah yang selalu menunggu dan mencari kabar mu. Dan kau hanya berbagi apa yang ingin kau bagi.

        Apa perlu setiap malam aku menemuimu untuk mendengarkan keluhan? Hanya saja terbatas waktu. Perhatianku memang hanya untukmu, memang. Tapi kau? Masih saja mengurusi hal rumit yang seharusnya bisa ditinggalkan begitu saja. aku kecewa, dan kini membiasakan ini.

       Pesanmu tentang konvers biasa aku tanggapi, sesibuk apapun, hingga mungkin aku lelah dan kau terabaikan, maaf. Aku masih percaya dengan kita, masih. Aku hanya memendam merah, aku putih yang sangat hambar, dan kau bukan hitam yang nyata. 

     Aku terlalu berpikir kau, kau dan kau. Sesekali pertemuan, walaupun ditengah hujan badai, aku merespon baik. Tak menolak, selarut apa pun kita akan pulang. Sulit untuk melepaskan kau yang telah mendiam utuh di relung abadi yang terbiasa dengan kasih sayang. 

       Pikiran konyol ku pernah membayang kan, kau akan pergi, dan aku rela. Hingga kita tidak pernah lagi bertemu, tidak pernah lagi kenal. Tapi aku tak mengharapkan seperti itu. Kau yakin kita akan lama, karena aku lah kekasih mu yang paling lama.

      Saat ini kita terbatasi dengan kebiasaan yang sangat berbeda. Aku dengan ini apa aku, dan kau dengan kehidupan menarik lainnya. Kedewasaan yang rumit, sangat susah menjelaskan. Apa kau akan selalu menyimpan jejakku? untuk selanjutnya aku bagikan ke satu lain? jangan sampai. 

    Mudah-mudah an waktu akan membantu kau dan aku menjawab ini, dan aku harap jangan berfikir aku berubah dan akan meninggalkanmu. Selesaikan dulu urusan lama mu yang sulit untuk terselesaikan. Silahkan. Masih lama denganmu, pasti.

Komentar