Gurauan Blirik

Beberapa dari mereka menyanjung petikan kala itu. apa aku bergurau?
Tapi aku hanya melihat yang tercipta nyata.
Bagi ku dia nyata, mimpi yang nyala.

Tapi,setidaknya ada sesuatu yang kurang kupahami. dia..
Tanpa ada pengenalan hati, dia tertawa menyambutku.

"aku menyenangimu"

dan aku membalas
"andaikan aku hanya sebuah angin yang tak jelas,
 kamu mungkin akan selalu diam mengenaliku"

Hanya sesaat aku melangkah kekanan, matanya mengiringiku,
menyelidiki keadaan, menerka hal yang mungkin tak ku pikirkan, ada apa?
Dia hanya mengungkapakan getaran seketika pulihkan hati.

Dia memintaku menulis, itu ku sanggupi. Lalu dia memintaku mebaca tulisan itu,
itu gampang hanya mengucapkan. Seketika dia ingin meyimpan tulisanku, buat apa?

"aku hanya ingin menyimpan jejakmu, aku hanya menyenangi semua tentangmu"

Suara lembutmu, memecah keheningan. Saat tanda tanya muncul.
Aku tak melanjutkan kebingungan.

"aku tak hanya menyenangimu, bahkan aku mengenalimu"

Ungkapan itu lebih memenuhi kebingungan sebelumnya. Tau apa dia?

"apa aku harus menulis lebih untuk membuat mu berhenti bertutur?"

Dia mengisi secangkir gelas dengan cairan pahit, menyuguhi ku untuk menikmati minuman itu,
dan berkata :

"aku tau apa yang kau sukai, dan apa yang kau hindari,
kamu merasa heran dengan apa yang terjadi,
aku akan hilang jika kau tak akan mengingat, hanya aku ingin kau merasakan,
lebih baik tak usah menanyakan kembali, pahami"

Aku beranjak lebih, kujatuhkan tinta hitam di tangan kiriku.
Buku hitam itu aku tinggalkan. Memenuhi permintaannya. Pulang dengan keraguan.
Mungkin dia sangat mengenalku, bukan mimpi satra.
Tapi seketika mereka burai cempera,
aku melihat blirik di penghujung tabir harapan. 

Ini seperti fabula, tapi hanya terangkum sedikit.
tiba tiba aku mencium khas aroma dia,
Dia tau aku berada.

"tak usah memikirkan, ini bukan cenduai, hanya balam khayalan mu,
alangkah sederhananya cinta"

Beri aku apa yang tak ku tau, dan apa yang lebih kau tau !

Spontan aku leburkan semua tahapan.
Aku harap dia akan menjawab, semua aksara tanya blibet.

"cukup percaya, akan cinta yang jejal itu mimpi,
akan tetapi tidak ada jerait, selama aku masih mengenalmu, itu yang aku lebih tau,
kuharap kau mengerti"

Lalu dia pergi, aku hanya membiarkan dia berpetualang.
Aku akan merangkak menggunakan lentera redup,
kesamaran sedikit jelas setelah dia jemba mimpi ku, selumu dengan asonansi,

Interval mimpi sedikit jerah, anggutkan celah  jujai.
Seakan ini kulanjutkan. 


~Syair untuk Tanda Tanya 


Komentar