Aku Lebih Tau Diriku

Aku mengeja kehidupan yang berbeda. Sebab aku bukanlah tuan pemilik satu dunia. 
Semua menyolok dan menjual harapan. Didunia mana itu? Aku menghias latahnya pribadi yang jarang mengerti. Hanya aku lakukan searah.

Rasuk bias perlahan memanah hebat menjadi kelabu yang suram.
Tanpa aku kau tak mungkin menyaluti dinginnya rumah pahitan. Aku menyombongkan ini,
Kau pun menyimaki dengan tamah. Walau sedikit coretan.

Bukan aku menyela banyak, hanya aku menggarah raut sajak pilu.
Tunggu aku mungkin kau akan lelah, tinggali aku jika kau sanggup.
Lagi aku menyombongi hati yang bercamar.

Ceritanya berbeda, jadi apa kau mau untuk mengikuti alur runyamku?
Bukan sekedar kata-kata, tapi sebuah klausa tanpa akhir.
Hanya saja aku enggan memberi tau nya. Biasanya kau yang tau. Itu sebisa kau,
aturlah sedikit, aku menunggunya saja.

Irama cinta omong kosong berfana tanpa mewujudi perlahan cinta terpenuh.
Kalian  bisa apa untuk hatiku? Sanggup sedetik aku bernada sandiwara.
Tak usah lari kencang, kau sesaat akan lengah.

Lirik apalagi untuk aku tau?
Mungkin malam penuh bintang tidak menjamak luka yang dipaksa sembuh.
Mungkin saja bukan? bila saja kau tak ingin tau tentang ku, 
Luka itu pasti hilang tanpa bekas.

Aneh bukan? Bisa saja aku tadi tidak berfikir begitu. 
Tak usah risih dengan raut dilema. Ini bukan ambigu hati.
Hanya runyaman cerita yang berbalik dan harus berjalan tanpa memilih.
Aku rasa begitu.

Semua yang kau tau bukan berarti duniaku, semuanya bukan berarti hebat.
Harusnya kau meminta aku untuk memberi jejak, bukan seolah kau serba tau,
aku muak dengan kepintaran palsu dan cerita romantiis
yang mengada ada dari imajinasi mu.

Jujurlah, kau tak ada sejarah pasti, aku yakin omong kosongmu itu,
akan tercurah pada cerita palsu yang menyakitkan,
membawamu dalam luka yang luar biasa.

Perlahan aku hanya kembali di awal.
Aku menunggu itu terjadi, dan akan memberi tahu mu,
Aku lebih tau diriku
Pergilah dengan kepalsuan fikiran mu. Dirimu palsu.

Komentar