“Berapa lama kamu menyusun kata-kata semanis itu?” aku bertanya lugu seolah tak tau bagaimana surutnya dia menatap ku dengan gagap. Dia hanya tertegun mengatakan “jangan nilai kata-kata indahku, cobalah menatap lebih kesini” sambil menepuk dada bidangnya yang bisa dikatakan menakjubkan. Aku hanya diam seolah tak sanggup menjawab permintaan ini. Sulit untuk jujur, tapi ya lebih baik tidak mengatakan sejujurnya. Pasti ada waktu. Tatapannya terus menarik air mataku agar berlinang dan berkaca kaca. Ini kesalahanku, aku berfikir begitu. Sesekali dia lusuh menunggu, ya didalam hatiku, tapi aku tetap tidak menjawab. Ini tentang waktu.
Angin menyerah menggugurkan kerasnya hatiku, berganti dengan derasnya hujan yang melunturkan liatnya kalbu ku, tuhan inikah egoisnya hati yang sedang jatuh cinta? Ingin sekali memiliki dia yang tulus ini, tapi itu sangat salah. Aku hanya menyesali keadaan yang rumit ini.
Pekan pekan berlalu cepat dengan canda tawa yang tak kurang darinya, belum sempat jujur. Hingga masih terus berdosa membiarkan semuanya berlarut. Sempat dia tabah bersabar menghadapi wanita yang keras ini “tenang, aku tetap sayang, dan harus sayang sama kamu, tapi belum waktunya, aku sayang kamu” kata kata itu menakjubkan, aku bahagia tapi..
“jangan bercerita seperti itu, aku hanya takut mengecewakanmu lagi”
*** ***
Dia menjauh, dia berpaling, dia susahan hati, dia mengabadikan doktrin seperti kaca jendela, yang memisahkan kenyataan walau tak dimengerti. Aku tak ingin mengatakan kehidupan ku sia sia, bagiku bintang tetap tertulis hidup mengawali kenyamanan. Aku tertegun memecah misteri kesunyian tentang perasaan. Hanya kebingungan hingga benar benar aku tau kenapa dia seperti ini. Bisa mendekat sedikit tanpa ada yang salah paham, bahkan kekecewaan yang berbalik?
Kekecewaan ku sungguh berat, aku susah percaya tapi terjauhi dengan perlahan. Seperti ini terus selama 2 minggu. Hingga ku putuskan untuk memulai percakapan, agar jelas. Ya, semua jelas. Aku menangis menyesali kepergiannya dengan seorang yang mungkin lebih. Tapi secepat itu? Aku merasa disinilah semuanya berhenti, walau tak ingin kuakhiri ya itulah. Aku tak seluas pemikirannya.
Percakapan rumit saat itu, aku simpan. Aku baca berulang kali. Aku hayati, aku tangisi, ku tulis kembali dalam scrapbook yang kutulis indah dengan tangan ini.
“kemarin aku sempat menyayangimu”
“bukan begitu,aku juga sangat tulus, hanya aku kecewa,”
“ini salahku, tapi aku tak bermaksud seperti itu, maaf. Aku harus jauh darimu”
“jangan pergi, mohon ! aku sudah tak bisa mengambil sayang itu dari gadis sepertimu”
“aku jahat, bukankah aku ? ah, pergilah... aku mengerti, aku sayang kamu”
“maafkan aku, jangan seperti ini”
“sudahlah, bukan kamu yang pemberi harapan aku yang berlebihan menanggapi”
“maaf sekali lagi maaf, kita masih bisa seperti biasa?”
“tidak kurasa “
“jangan tidur terlalu malam, pesan ku”
“ya, sudahlah itu aku”
“maaf”
Percakapan itu usai begitu saja. Setelah itu kita bukan siap siapa lagi. Dia telah menemukan yang lain. Aku sudah kembali dengan yang bisa menunggu lebih lama. Aku mencoba menutup rapat yang berlalu dengan dia yang kukira lebih baik. Aku memulai kembali dengan dia yang pernah ada, yang tak pernah berlalu.
Perpisahan sekolah menjadi momen komunikasi terakhir, wanita yang dia pilih pun memeluk ku, dia pun menyisakan dua potert kenangan terakhir untukku. Walaupun kutau senyumnya tak sumringah, wlaupun dia keberatan waktu aku gandeng tangannya. Itu yang terakhir.
Pujangga yang berlalu, akulah yang telah menyesal menyayangimu, tapi aku baagia sempat mendengar kata kata sayang dan perhatian yang berbeda. Aku onginkembali untuk merubah alur ini. Tapi itu mustahil.
Ingatkah? Kita menanti hujan selarut mungkin untuk supaya aku tidak sakit? Kau selalu senang jika antar jemput ? ingat kata kata ini “aku sayang kamu, hingga waktunya tiba kita akan bersama, bukan sekarang. Sebentar lagi”? ingat dengan malam minggu itu,? Dengan kostum kuning dan aku hitam? Ingat dengan janji mu menyanyikan sebuah lagu dengan gitar, lagu yang berjudul “itu aku”? Dan kau ingin sekali mendengar aku bernyanyi dengan gitar untukmu. Mungkin terlalu lelucoan jika syair ku terlalu banyak tentang mu. Tapi aksaraku selalu tertuang menyebut namamu.
Ya, sekarang kita punya alur cerita yang tak lagi sejalan. Hello :D
Selayaknya aku mencoba berjalan, bahkan berlari meninggalkan yang berlalu, bahkan akupun berlalu. Terimakasih kebahagiaan singkat darimu. Tetapkan pilihan mu. Jika semua membaik, aku masih yang dulu. Tetap seperti aku yang dikenal.
“Aku selalu bersajak dengan syair abadi untuk dikau yang berperan layaknya pangeran khayalan ku”
sementara aku bersama mu
MFH~
Wulandari Amor Ganelsa
Komentar